Hujan turun sejak sore, membasahi kaca jendela kamar yang tak pernah benar-benar terang. Di sudut ruangan itu, Rana duduk sendirian dengan mata sembab dan kepala penuh suara-suara yang tak bisa ia hentikan. Sudah terlalu lama hidup terasa seperti lorong sempit tanpa ujung. Semua yang ia perjuangkan perlahan runtuh, satu demi satu, hingga ia tak lagi tahu apa yang harus dipertahankan.
Belakangan ini ia sering bertanya pada dirinya sendiri—apa sebenarnya arti bertahan jika setiap hari hanya diisi rasa kecewa?
Orang-orang mengira Rana kuat. Ia selalu tertawa saat berkumpul, selalu berkata “aku baik-baik saja,” meski di dalam dirinya ada sesuatu yang perlahan retak. Namun malam itu, untuk pertama kalinya, ia mengakui bahwa dirinya lelah. Lelah menenangkan hati yang terus berisik. Lelah mencoba memahami mengapa hidup terasa begitu kejam. Lelah memaafkan kenyataan yang tak pernah sesuai harapan.
Ia menunduk lama sekali.
Kadang seseorang tidak hancur karena satu kejadian besar. Kadang manusia runtuh perlahan—oleh harapan kecil yang gagal berkali-kali.
Rana teringat pesan ibunya dulu: “Tak apa kalau hidup membuatmu jatuh. Yang penting jangan sampai kau kehilangan jalan pulang.”
Namun sekarang ia bahkan tak tahu jalan pulang itu masih ada atau tidak.
Di luar, lampu jalan memantul di genangan air. Kota terlihat dingin dan asing. Rana berjalan tanpa tujuan malam itu, membiarkan langkahnya menembus trotoar basah. Kepalanya penuh pertanyaan yang tak punya jawaban.
Ke mana sebenarnya manusia pergi saat semua keyakinannya habis?
Ia melihat banyak orang masih berjalan seperti biasa—tertawa, bercakap, pulang ke rumah masing-masing—sementara dirinya merasa tertinggal jauh di belakang dunia. Ada iri kecil dalam hatinya kepada mereka yang masih bisa percaya bahwa esok hari akan membaik.
Sampai akhirnya ia berhenti di sebuah warung kecil yang hampir tutup. Seorang ibu tua sedang membereskan kursi-kursi plastik. Saat melihat Rana berdiri termenung di depan warung, perempuan itu hanya berkata pelan, “Masih hidup berarti masih ada giliran bahagia.”
Kalimat sederhana itu entah kenapa menancap begitu dalam.
Rana tersenyum kecil untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
Mungkin benar, tidak semua luka harus sembuh malam ini. Tidak semua manusia langsung menemukan arah pulang setelah tersesat. Ada yang perlu berjalan sangat jauh, jatuh berkali-kali, bahkan kehilangan dirinya sendiri dulu, sebelum akhirnya mengerti arti bertahan.
Dan malam itu Rana sadar, manusia yang paling dimuliakan bukanlah mereka yang tak pernah terluka, melainkan mereka yang tetap hidup meski hatinya berkali-kali hampir menyerah.
Ia menarik napas panjang, menatap langit gelap yang perlahan reda.
Untuk pertama kalinya, ia belum menemukan jawaban. Tapi setidaknya… ia belum berhenti mencari.
For Revenge - Menunggu Giliran ft. Elsa Japasal | Lirik
Tak apa jengah dengan derita
Lelah kau bertanya harus apa
Terlalu kecewa sampai kau hampir gila
Tak apa kali ini merendah
Seberantakan itu dibuatnya
Terlalu marah sampai kau lupa arah
Yang termuliakan
Bagi yang bertahan
Dan yang terpulihkan
Menunggu giliran
Ke mana
Arah pulangmu
Ke mana
Ajal menuju
Jika kau tak lagi percaya
Uh uh uh
Uh uh uh
Uh uh uh
Uh uh uh
Yang termuliakan
Bagi yang bertahan
Yang terpulihkan
Menunggu giliran
Ke mana
Arah pulangmu
Ke mana
Ajal menuju
Jika kau tak lagi percaya
Oh oh oh oh ke mana
Arah pulangmu
Ke mana
Ajal menuju
Jika kau tak lagi percaya
Jika kau tak lagi bernyawa
Album: Sebelum Merayakan







0 komentar:
Post a Comment