
Setiap sore, ketika matahari mulai turun dan cahaya jingga menyentuh tanah, aku selalu duduk di bangku kayu tua di depan rumah. Tempat itu menjadi ruang kecilku untuk merenung—tempat di mana dunia serasa berhenti sebentar, dan hanya suara angin yang menemani.
Di depan bangku itu ada sebuah kebun sederhana. Tidak tertata rapi, tidak dihiasi tanaman mahal, bahkan sebagian orang mungkin akan menyebutnya “berantakan.” Tapi bagiku, kebun kecil itu adalah ruang kehidupan yang jujur: apa adanya.
Sore itu, pandanganku terhenti pada sekumpulan bunga liar. Mereka tumbuh lebat tanpa aturan, membentuk warna-warni yang saling bercampur: putih, kuning, ungu—semuanya mekar tanpa peduli siapa yang melihat. Rumput-rumput liar dan gulma pun tumbuh di antara mereka, tetapi justru itulah yang membuatnya indah.
Aku memperhatikan seekor kumbang hinggap di salah satu bunga putih yang tampak paling polos. Kumbang itu bergerak perlahan, seakan menikmati setiap helai kelopak. Lalu ia terbang, berpindah ke bunga lain, seperti penjelajah kecil yang mencari kehangatan di setiap tempat yang disinggahinya.
Bunga-bunga liar… Mereka terlihat bebas, kuat, dan sederhana. Namun, keindahan mereka hanya muncul bagi orang yang mau mencermatinya. Dan sore itu, entah mengapa, aku merasa bunga-bunga itu mengingatkanku pada sesuatu—atau mungkin seseorang.
Ada keindahan yang sering kita lewatkan dalam hidup karena tidak kita perhatikan. Seperti anak kecil yang sering terlupakan di tengah keramaian, padahal jika kita berhenti sejenak, kita akan melihat betapa menawannya mereka. Begitulah bunga-bunga liar itu bagiku: sederhana, tapi penuh cerita.
Namun, tak selamanya mereka dibiarkan hidup bebas. Suatu hari, tukang kebun datang dengan alat-alatnya. Ia menata ulang, memangkas, mencabut gulma, merapikan semuanya agar terlihat “lebih indah” menurut standar manusia. Dan begitu saja, sebagian besar bunga liar itu hilang.
Aku terdiam lama memandang tanah yang kini rapi, tetapi terasa kosong.
Bukan karena aku membenci keteraturan…
Tapi karena keindahan itu hilang terlalu cepat, seperti sesuatu yang tidak sempat aku jaga.
Meski begitu, aku tahu satu hal tentang bunga liar: mereka selalu punya cara untuk kembali. Tumbuh tegar meski dipangkas, mekar lagi meski dicabut, muncul di sela-sela tanah yang keras. Mereka mungkin tampak lemah, tapi ketegaran mereka melebihi apa pun.
Dan sore berikutnya, ketika aku duduk lagi di bangku kayu itu, aku tersenyum melihat satu tunas kecil muncul di tepi kebun. Bunga kecil itu seperti berkata:
"Aku masih ada. Aku tetap mekar. Tetap tegar.
Navicula - Bunga Liar | Lirik
Di kebun
Tepat depan tempatku merenung
Kulihat bunga
Yang tumbuh
Lebat, liar, dan slalu bersemi
Kulihat kumbang
Yang hinggap
Di kembang putih, kuning, dan ungu
Lalu dia terbang
Di bunga-, bunga liar, embun segar
Di bunga-, bunga mekar, tumbuh tegar
Indahmu ada saat aku cermati
Kulihat detil
Seperti anak yang slalu terlupakan
Namun menawan
Bercampur rumput, gulma
Tukang kebun datang
Dirimu hilang
Oh, bunga-, bunga liar, embun segar
Oh, bunga-, bunga mekar, tumbuh tegar
Oh, bunga-
Tetap mekar
Tetap tegar
Oh, bunga