Mari berdendang & bernyanyi !

  • Musik Barat

    Musik pertama kali muncul dimana sih?

  • Musik Lokal

    Yang lokal itu lebih asik, lebih rame, lebih seru.

  • Musik Jepang

    Yui? Tokyo adalah salah satu lagu yang sangat ekspresif.

  • OST. Film

    Saya rekomendasikan Anda untuk melihat film Flying Colours.

  • OST. Anime

    Lisa dengan lagunya yang berjudul Ichiban no Takaramono tak kalah ekspresifnya dengan Tokyo milik Yui.

____

10/31/2025

Navicula - Busur Hujan (Lirik)

Navicula - Busur Hujan (Lirik)

Langit sore itu seperti kanvas raksasa. Di ujung cakrawala, terbentang busur warna-warni—pelangi yang lahir dari pertemuan hujan dan matahari. Aku berdiri di tepi pantai, menatapnya dengan dada bergetar. Entah kenapa, setiap kali pelangi muncul, ada suara yang berbisik di dalam kepalaku, memanggilku untuk datang ke sana.

"Ke sanalah… tempatmu berasal."

Aku tak tahu apa maksudnya. Tapi hari itu, aku memutuskan untuk menuruti panggilan itu. Aku menyiapkan perahu kecil warisan ayahku, mengembangkan layarnya, dan berlayar ke arah busur hujan itu—ke arah yang katanya menuju gerbang surga.

Ombak memantulkan cahaya jingga, dan angin beraroma laut menampar wajahku lembut. Aku merasa sedang kembali, bukan pergi. Seolah laut ini adalah ibuku yang menyambut anaknya pulang setelah sekian lama tersesat.

“Samudra ibuku…” gumamku pelan, saat perahu bergoyang lembut di antara gelombang. Aku merasa harus menghunjamkan sauhku—tidak ke dasar laut, tapi ke rahim bumi, tempat semua kehidupan bermula. Di sanalah aku ingin berlabuh, di tempat di mana warna-warni kehidupan berpadu jadi satu.

Malam tiba, tapi pelangi itu tidak hilang. Ia tetap melengkung di langit, seperti jembatan cahaya yang menuntunku. Dalam diam, aku mengerti bahwa busur hujan itu bukan sekadar fenomena alam—ia adalah janji. Janji antara manusia dan alam, antara anak dan ibu, antara hidup dan asalnya.

Aku melihat wajah-wajah moyangku di antara gelombang: para pelaut, penanam padi, penjaga api, dan perempuan tua yang meninabobokan bumi. Mereka tersenyum, seolah berkata bahwa aku sedang melanjutkan mimpi mereka.

Di bawah busur hujan itu, aku sadar: semua manusia hanyalah penumpang yang menitipkan mimpinya di cakrawala. Kita berlayar membawa harapan, dan pada akhirnya, semuanya akan kembali menyatu—warna-warni menjadi satu, di dalam rahim tempat segalanya bermula.

Ketika perahuku akhirnya berhenti, aku menatap ke langit untuk terakhir kalinya. Busur hujan itu kini tepat di atasku, begitu dekat hingga seolah bisa kusentuh. Aku tersenyum.

"Kini aku pulang."

Lagu ini ditulis oleh Gede Robi Supriyanto.


Navicula - Busur Hujan (Lirik)

Busur hujan di cakrawala
Kau rayu hatiku menuju ke sana
Busur hujan di cakrawala
Mahakarya jembatan ke gerbang surga

Kukembangkan layarku
Arungi samudra ibuku
Kan kuhunjam sauhku
Ke dalam rahimmu

Warna-warni kita menjadi satu
Di dalam rahimmu

Busur hujan di cakrawala
Manusia titipkan mimpinya di sana
Busur hujan di cakrawala
Ada harta di kakinya menunggu di sana

Kukembangkan layarku
Arungi samudra moyangku
Kan kuhunjam sauhku
Ke dalam rahimmu

Warna-warni kita menjadi satu
Di dalam rahimmu

Warna-warni kita menjadi satu

Share:

10/30/2025

Navicula - Mulih (Lirik & Terjemahan)

Navicula - Mulih (Lirik & Terjemahan)

Pagi itu, motor tuaku meraung pelan di jalanan Denpasar yang padat. Asap kendaraan menampar wajahku, dan di balik helm murahan ini, aku tersenyum getir. “Cang sube nyerah,” gumamku lirih. Aku sudah menyerah.

Bertahun-tahun di kota, aku pikir hidup bakal lebih baik. Tapi yang ada cuma kerja serabutan, gaji pas-pasan, dan kos-kosan yang makin sesak. Tiap bulan selalu sama: uang habis, kepala panas, dan hati kosong. Sepeda motor yang dulu kubanggakan kini hampir rontok, dan pemilik kos sudah menagih uang sewa tiga bulan. Di saat itu aku sadar — mungkin aku memang bukan untuk kota.

Hari itu, aku putuskan pulang. Tak ada barang berharga yang kubawa, cuma beberapa pakaian dan sekarung kecil kenangan. Aku melajukan motor ke arah utara, meninggalkan bising Denpasar menuju desa kelahiranku di kaki gunung.

Sepanjang perjalanan, udara makin segar. Jalan berkelok melewati sawah dan pohon kelapa. Aku bisa mencium aroma tanah basah — bau yang dulu kupikir biasa saja, tapi kini membuat mataku panas.

Sampai di rumah, pekarangan masih sama. Tanah peninggalan kakek, sepuluh are luasnya, ditumbuhi kelor, pisang, jahe, dan tabia. Aku berdiri di sana lama, memandangi pohon-pohon itu seperti menatap wajah orang tua sendiri.

Kakek dulu selalu bilang, “Sing ngaden gumi keweh cara kene, Yen demen ngoyong, pasti nyidang idup.” (Tidak ada dunia yang sulit kalau kau mau bekerja.)

Dan benar. Aku mulai lagi dari nol. Kupulang tanam pisang, kelor, jahe. Kubuat kolam kecil di belakang rumah, kupelihara lele dan kambing. Siang kepanasan, malam kedinginan, tapi hatiku tenang.

Dulu di kota, aku sering menunggu BLT, mengharap bantuan. Sekarang, aku menanam dan memanen sendiri. Sedikit demi sedikit, hasil kebun mulai laku di pasar. Aku buka rekening kecil di koperasi desa, mulai belajar menabung. Tiap pagi, burung-burung menemaniku. Setiap sore, langit jingga mengiringi air kolam yang beriak.

Kadang aku tertawa sendiri mengingat masa lalu: betapa kerasnya aku berjuang di tempat yang tak mencintaiku. Sekarang, di sini, aku tak kaya — tapi aku merasa cukup.

Dan saat aku menatap sawahku yang hijau luas, aku berbisik, “Sing mase atiban jani panen, Astungkara.” (Semoga panen kali ini berhasil, Tuhan.)

Aku tersenyum. Icang kal mulih — aku pulang. Dan mungkin, inilah pertama kalinya aku benar-benar hidup.

Lagu ini ditulis oleh Gede Robi.


Navicula - Mulih (Lirik)

Cang sing ngaden gumi keweh cara kene
Cang sube nyerah
Be telah sajan uleh-ulehane
Ane dadi adep be konyang bakat adep
Jeg sube telah
Tuah sepeda motor anggo kemu mai

Di kos-kosane jeg pragat uyut jak kurenane
Kalahin cang punyah
Pang ilang doen setrese awai

Aget jumah nu ade tanah pekak’e,
bin dasa are
Kal pulang biu, kelor, tabia, jahe
Kal pulang sela
Kal ngubuh celeng, kambing, kolam lele
Icang kal mulih
Ngoyong di desa

Sing mase atiban jani panen, Astungkara
Ulian abian payu nyakan

Maan seka bedik de engsap ngae tabungan
Anggo plajahan
Pang tusing Bete ngantos BLT

Konyang kal telpon jani timpale, ngae koperasi
Pang tusing uluk-uluk celuluk

Aget jumah nu ade tanah pekak’e,
bin dasa are
Kal pulang biu, kelor, tabia, jahe
Kal pulang sela
Kal ngubuh celeng, kambing, kolam lele
Icang kal mulih
Ngoyong di desa


Navicula - Mulih (Terjemahan Lirik)

Aku tak bilang dunia ini sulit, hanya jalannya saja yang begini.
Aku sudah menyerah.
Sudah cukup dengan segala kesibukan dan pencarian yang tak ada ujungnya.
Apa gunanya terus berlagak kuat kalau perut pun masih sering lapar?
Sudah cukup.

Untung masih ada motor butut ini,
yang bisa kupakai untuk pulang ke kampung halaman.
Di kos-kosan, aku habis-habisan,
semua tabungan habis, bahkan uang kiriman dari nenek pun tak tersisa.
Semuanya kalah oleh kerasnya hidup di kota.
Semua stresku hilang hanya kalau aku membayangkan rumah di desa.

Sampai di rumah, masih ada tanah peninggalan kakek,
seluas sepuluh are.
Kupikir, lebih baik aku tanami lagi:
pisang, kelor, cabe, dan jahe.
Kupulang menanam,
kubuat kolam ikan lele, pelihara babi dan kambing.
Aku pulang.
Aku kembali bekerja di desa.

Tak apa kalau belum panen sekarang, semoga nanti—Astungkara (atas restu Tuhan)—hasilnya baik.
Kalau ladangku berhasil, aku bisa menanak nasi dari panen sendiri.
Dari hasil kecil itu, aku bisa mulai menabung,
buat modal belajar dan hidup lebih mandiri.

Tak usah berharap bantuan BLT lagi.
Sekarang, teman-teman yang dulu di kota malah menelepon,
katanya mereka mau bikin koperasi desa.
Tak perlu lagi memohon, tak perlu lagi takut pada malam.

Masih ada tanah kakek, sepuluh are luasnya.
Kupulang tanam pisang, kelor, cabe, dan jahe.
Kupulang menanam sela (umbi-umbian).
Kupelihara babi, kambing, dan kolam lele.
Aku pulang.
Aku bekerja di desa.

Share:

10/29/2025

Peterpan - Semua Tentang Kita (Lirik)

Peterpan - Semua Tentang Kita (Lirik)

Waktu berjalan seperti arus sungai yang tak bisa diputar kembali. Setiap detiknya membawa pergi sedikit demi sedikit serpihan masa lalu, meninggalkan hanya kenangan yang menggantung di ujung hati.

Malam ini, aku duduk sendiri di bawah cahaya lampu kamar yang temaram. Di hadapanku, secangkir teh yang sudah mendingin. Di luar jendela, hujan turun pelan—membawa aroma tanah yang membuatku teringat padamu.

Dulu, kita sering duduk di tempat ini. Kau dengan tawa kecilmu yang khas, dan aku yang selalu berpura-pura tidak memperhatikanmu, padahal diam-diam, aku menyimpan semua dalam ingatan. Tawa itu… dulu mampu menghapus sepi yang kini menetap di hatiku.

Kini aku hanya bertanya dalam diam, ke mana harus kucari tawamu? Bagaimana caranya menghapus sunyi tanpa kehadiranmu di sisi?

Masih kuingat masa-masa itu—ketika kita berdua, bersama teman-teman, mengisi hari dengan cerita yang entah kenapa selalu terasa istimewa. Kita tertawa sampai lupa waktu, berbagi rahasia kecil, menangis diam-diam saat dunia terasa terlalu berat, lalu menertawakan air mata itu di kemudian hari.

Semua terasa sederhana… tapi begitu berarti.

Ada cerita tentang aku dan kamu. Tentang kita—yang dulu begitu dekat, begitu utuh, sebelum jarak dan waktu perlahan menghapus jejaknya. Ada masa yang begitu indah, saat kita masih bisa saling memahami tanpa banyak bicara. Saat satu tatapan saja cukup untuk membuat dunia terasa lebih ringan.

Kini, yang tersisa hanya kenangan. Tapi tak apa. Karena kenangan tentangmu bukan luka—melainkan bagian dari diriku yang pernah sangat hidup.

Dan meski waktu tak bisa kuputar kembali, aku tahu… di antara banyak kisah yang akan kulalui nanti, cerita tentang kita akan selalu menjadi yang paling manis untuk kuingat.

Lagu ini ditulis oleh Nazril Irham.


Peterpan - Semua Tentang Kita (Lirik)

Waktu terasa semakin berlalu
Tinggalkan cerita tentang kita
Kini, di mana kucari tawamu
'Tuk hapuskan semua sepi di hati?

Ada cerita tentang aku dan dia
Dan kita bersama saat dulu kala
Ada cerita tentang masa yang indah
Saat kita berduka, saat kita tertawa

Teringat di saat kita tertawa bersama
Ceritakan semua tentang kita

Ada cerita tentang aku dan dia
Dan kita bersama saat dulu kala
Ada cerita tentang masa yang indah
Saat kita berduka, saat kita tertawa

Share:

10/28/2025

Sheila On 7 - Kita (Lirik)

Sheila On 7 - Kita (Lirik)

Senja baru saja jatuh, menumpahkan jingga di wajahnya. Di bawah langit yang nyaris kehilangan cahayanya, kami duduk berdua—diam, tapi sarat dengan kata-kata yang tak pernah berani terucap.

Dulu, di antara tawa dan tangis, kami pernah percaya bahwa cinta selalu suci. Kami saling menguatkan, saling menenangkan, dan tanpa sadar menjerumuskan diri dalam sesuatu yang lebih dalam dari sekadar rasa sayang.

Aku masih ingat bagaimana ia menatapku sore itu—lembut, tapi penuh ragu. “Kalau saja dunia bisa sedikit lebih adil,” katanya pelan, suaranya hampir tenggelam oleh desir angin. Aku tak menjawab. Hanya menatap tanah, takut menatap matanya yang jujur itu, karena di sanalah aku temukan dosa yang kian tumbuh subur.

Kami tahu ini salah. Tapi kami juga tahu, rasa tak bisa begitu saja dihapus dengan logika. Cinta datang seperti racun yang manis, dan kami berdua sudah terlalu lama meneguknya.

Setiap kali ia berbisikkan kata cinta, jantungku berdetak terlalu keras hingga terasa menyakitkan. Ia menanamkan rasa yang seharusnya tak tumbuh di antara kami—tapi nyatanya, di situlah kami berakar.

Kami saling berjanji dalam diam. Bahwa meski dunia memandang hina, kami akan tetap seirama. Bahwa meski hati dipenuhi luka, kami akan tetap saling menjaga dalam rahasia.

Namun waktu tak bisa diajak berdamai. Rasa yang dulu hangat mulai layu. Ia sering termenung lama, memandangi langit seperti mencari sesuatu yang hilang. Aku tahu—perlahan, dunia nyata mulai memanggilnya pulang.

Di malam terakhir kami bersama, ia menggenggam tanganku erat. “Mungkin cinta ini tak akan pernah diterima siapa pun,” katanya dengan mata basah, “tapi jangan pernah menyesali rasanya.”

Aku hanya mengangguk. Tak ada yang bisa dikatakan. Cinta ini mungkin salah, tapi terlalu benar rasanya untuk disebut penyesalan.

Kini, setiap kali aku sendiri, aku masih bisa mendengar bisikannya—kata cinta yang dulu mengikat kami dalam dosa, namun juga pernah membuat kami hidup sepenuhnya. Mungkin kami terikat oleh rasa hina, tapi di dalamnya, ada cinta paling murni yang pernah kami punya.

Lagu ini ditulis oleh Eross Candra.


Sheila On 7 - Kita (Lirik)

Di saat kita bersama
Di waktu kita tertawa, menangis, merenung
Oleh cinta
Kau coba hapuskan rasa
Rasa di mana kau melayang jauh dari jiwaku
Juga mimpiku

Biarlah, biarlah
Hariku dan harimu
Terbelenggu satu
Oleh ucapan manismu

Dan kau bisikkan kata cinta
Kau t'lah percikkan rasa sayang
Pastikan kita seirama
Walau terikat rasa hina

Sekilas kau tampak layu
Jika kau rindukan gelak tawa yang warnai
Lembar jalan kita

Reguk dan teguklah
Mimpiku dan mimpimu
Terbelenggu satu
Oleh ucapan janjimu

Dan kau bisikkan kata cinta
Kau t'lah percikkan rasa sayang
Pastikan kita seirama
Walau terikat rasa hina

Dan kau bisikkan kata cinta
Kau t'lah percikkan rasa sayang
Pastikan kita seirama
Walau terikat rasa hina

Dan kau bisikkan kata cinta
Kau t'lah percikkan rasa sayang
Akankah kita seirama
Saat terikat rasa hina?

Share:

10/27/2025

Raisa - Usai Di Sini (Lirik)

Raisa - Usai Di Sini (Lirik)

Malam itu sunyi. Hanya suara jam di dinding yang berdetak lambat, seolah waktu ikut menyesali sesuatu. Di meja kayu kecil, segelas kopi hitam mulai dingin, tak tersentuh sejak satu jam lalu. Ia duduk diam di sana—menatap kosong ke arah jendela yang berkabut.

Ada tanya yang menggantung di dadanya, begitu pedih hingga membuat dada terasa sesak. Pertanyaan yang tak pernah terjawab, meski hatinya sudah berkali-kali mencoba memahami: mengapa semua yang dulu indah kini terasa jauh?

Ia mengingat masa ketika senyummu adalah alasan untuk bertahan. Ketika setiap mimpi terasa mungkin karena kalian mengukirnya bersama. Tapi kini, semua itu seperti lukisan di dinding yang warnanya mulai pudar—indah, tapi menyakitkan untuk dilihat terlalu lama.

Kau menepi perlahan, tanpa pamit. Mimpi yang dulu kalian bangun kini seperti pasir di genggaman—hilang satu per satu, bahkan sebelum sempat disadari. Dan dia tahu, sesungguhnya kau sudah tak menganggapnya bagian besar dalam hidupmu lagi.

Dia menarik napas panjang. Kopi itu kini hanya cermin dari hatinya—pahit, tapi masih hangat dalam kenangan. "Lebih baik kita usai di sini," bisiknya pada udara yang dingin. Bukan karena ingin menyerah, tapi karena tahu, cinta yang dipertahankan sendirian hanyalah luka yang menua pelan-pelan.

Ia bukan tak sanggup berjuang, hanya saja… ia belajar bahwa bijak juga berarti tahu kapan harus berhenti. Dia akan menunggu, ya—karena cinta sejati memang sabar. Tapi tidak selamanya. Sebab menunggu tanpa kepastian hanya akan membuat hati layu seperti bunga tanpa air.

Waktu berlalu. Hari berganti, luka perlahan sembuh. Di suatu pagi, ketika matahari menembus tirai kamarnya, ia tersenyum kecil. Cinta, katanya, bukan selalu tentang memiliki. Kadang cinta adalah tentang berani mengakhiri, agar yang tersisa hanyalah makna, bukan dendam.

Ia kini tahu, meski hatinya pernah retak, kepercayaannya pada cinta tak akan hilang. Ia akan tetap mencinta lagi, suatu hari nanti—dengan hati yang baru, tapi dengan jiwa yang telah belajar.

Dan saat itu tiba, ia tak akan menunggu siapa pun. Karena kini, ia sudah belajar mencintai dirinya sendiri lebih dulu.

Lagu ini ditulis oleh Johanes Haris Pranowo / Raisa Andriana.


Raisa - Usai Di Sini (Lirik)

Pedihnya tanya yang tak terjawab
Mampu menjatuhkanku yang dikira tegar
Kau tepikan aku kau renggut mimpi
Yang dulu kita ukir bersama
Seolah aku tak pernah jadi bagian besar dalam hari-harimu

Lebih baik kita usai di sini
Sebelum cerita indah tergantikan pahitnya sakit hati
Bukannya aku mudah menyerah tapi bijaksana
Mengerti kapan harus berhenti
Ku kan menunggu tapi tak selamanya

Kau tepikan aku kau renggut mimpi
Yang dulu kita ukir bersama
Seolah aku tak pernah jadi bagian besar dalam hari-harimu
Seolah janji dan kata-kata yang telah terucap kehilangan arti

Lebih baik kita usai di sini
Sebelum cerita indah tergantikan pahitnya sakit hati
Bukannya aku mudah menyerah tapi bijaksana
Mengerti kapan harus berhenti
Ku kan menunggu tapi tak selamanya

Tak akan jera kupercaya cinta
Manis dan pahitnya kan kuterima
Kini kisah kita akhiri dengan makna

Lebih baik kita usai di sini
Sebelum cerita indah tergantikan pahitnya sakit hati
Bukannya aku mudah menyerah tapi bijaksana
Mengerti kapan harus berhenti
Ku kan menunggu tapi tak selamanya
Ku kan menanti
Tapi tak selamanya

Share:

10/26/2025

Rio Satrio - Cerita Daun dan Bumi (Lirik)

Rio Satrio - Cerita Daun dan Bumi (Lirik)

Pagi itu, Bumi terbangun dari tidur panjangnya. Dia menatap sekeliling—hampa. Tak ada suara kicau burung, tak ada langkah kaki manusia, tak ada belaian hangat yang dulu sering menemaninya. Ia sadar, kali ini ia benar-benar sendiri.

Kesepian menjalari setiap retak tanahnya, setiap lekuk gunung dan lembahnya. Rasa takut yang tak kasat mata mulai menyelimuti hatinya—ya, Bumi punya hati, meski manusia jarang memikirkannya begitu.

“Apakah aku akan begini selamanya?” bisiknya pada udara.

Namun udara tak menjawab, hanya menghantam lembut wajahnya. Angin berhembus kencang, menampar dan memeluk dalam waktu yang sama. Tapi alih-alih menenangkan, ia justru membawa tangis yang makin meluas. Dari gunung hingga samudra, dari hutan hingga padang tandus—air mata Bumi menetes menjadi hujan, lalu mengalir, membentuk lautan.

Namun di tengah tangis itu, sesuatu mulai terjadi. Dari genangan kecil yang jernih, muncul sebutir harapan—benih kecil yang tak menyerah pada sedih. Ia jatuh ke tanah, disambut lembut oleh lumpur yang hangat, dan diam-diam, tumbuhlah sebatang tangkai hijau muda.

Bumi berhenti menangis. Dia memandangi kehidupan baru itu dengan mata penuh haru. Tangkai itu rapuh, kecil, tapi teguh berdiri di tengah lumpur bekas air matanya.

Lalu dari tangkai itu muncul daun—kecil, hijau, dan berani. Daun itu melambai lembut, seolah berkata, “Jangan takut. Aku di sini.”

Bumi terdiam. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa tenang. Daun itu tak hanya menghiasi, tapi juga mengusap tangisnya. Mengubah sedih menjadi teduh, getir menjadi hangat.

Bumi pun tersadar, kesabarannya tak sia-sia. Bahwa setiap luka, setiap kehilangan, selalu punya arti. Air matanya bukan akhir—mereka justru melahirkan kehidupan baru.

Kini, setiap kali angin bertiup, daun-daun itu berbisik lembut: “Kita bersama, membuat dunia lebih indah.”

Dan Bumi, yang dulu takut dan sendiri, kini tersenyum. Dia tahu, meski waktu akan terus berputar, daun akan selalu ada—menemani, menenangkan, dan mengingatkan bahwa dari kesedihan yang terdalam pun, bisa tumbuh sesuatu yang hijau dan penuh harapan.


Rio Satrio - Cerita Daun dan Bumi (Lirik)

Bumi terbangun
Tersadar dia sendiri
Takut selimuti hati
Lalu bosan semakin menghantui

Udara hantam dia
Temani tangisnya yang meluas
Membuat lautan lalu
Tersaring menjadi air

Lalu sebenih harap
Jatuh mungkin karunia
Tercipta batang tangkai
Yang berujung hijau

Bumi pun tersadar
Sabarnya tak sia-sia
Daun membantu usap tangisnya

Bumipun tersadar
Daun kan selalu ada
Lalu bersama buat dunia
Lebih indah

Bumi pun tersadar
Sabarnya tak sia-sia
Daun membantu usap tangisnya

Bumi pun tersadar
Daun kan selalu ada
Lalu bersama buat dunia
Lebih indah

Lalu bersama buat dunia
Lebih indah
Hu

Share:

10/25/2025

Raisa - Jatuh Hati (Lirik)

Raisa – Jatuh Hati (Lirik)

Aku bertemu dengannya di hari yang biasa—tidak ada musik romantis, tidak ada kebetulan dramatis seperti di film. Hanya sebuah perbincangan ringan di ruang baca, tentang buku yang sama-sama kami ambil. Dia menatap halaman buku itu lama, lalu berkata, “Lucu ya, kadang kata-kata bisa lebih hidup dari manusia.”

Aku tertawa kecil. “Mungkin karena manusia suka berbohong, tapi kata-kata… kalau sudah ditulis, tidak bisa mundur.”

Itu awalnya. Biasa saja. Tapi entah kenapa, sejak hari itu, suaranya tinggal di kepalaku. Ada ketenangan yang aneh setiap kali dia bicara, seolah kata-katanya punya sayap kecil yang mengelus bagian dalam dadaku yang lama tertidur.

Aku tak pernah berpikir ini cinta. Tidak seperti yang sering ditulis orang—tidak ada jantung berdebar berlebihan, tidak ada rencana memiliki, tidak ada janji manis. Yang ada hanya… keinginan sederhana: ingin berada di dekatnya.

Dia punya cara pandang yang berbeda terhadap dunia. Ketika orang lain melihat hujan sebagai gangguan, dia melihatnya sebagai kesempatan untuk diam dan mendengar. Ketika orang lain mengeluh soal hidup yang berat, dia berkata, “Mungkin hidup memang tidak harus ringan, yang penting kita bisa tetap berjalan.”

Aku terpikat bukan pada wajahnya, tapi pada tutur katanya. Aku tersihir bukan oleh senyumannya, tapi oleh caranya melihat hidup. Aku terkagum pada pandangannya yang jernih—bukan ke arahku, tapi ke arah dunia yang ia cintai.

Ada ruang di hatiku yang dulu kupikir sudah tertutup, tapi entah bagaimana, dia menemukannya. Bukan untuk dimasuki dengan cinta yang berisik, tapi untuk disinari dengan ketulusan yang tenang.

Aku tidak ingin memilikinya. Aku hanya ingin berada di dekatnya, cukup dekat untuk mendengar napasnya di sela kalimat, cukup dekat untuk tahu apa yang membuatnya tersenyum.

Dan setiap kali dia berbicara, aku merasa… ingin jadi versi terbaik dari diriku sendiri. Itu aneh, ya? Bagaimana seseorang bisa menginspirasi tanpa pernah mencoba?

Katanya cinta punya banyak bentuk. Mungkin ini salah satunya—yang tidak meminta, tidak menuntut, hanya merasa cukup dengan keberadaan.

Aku tahu, aku tidak jatuh cinta padanya. Aku hanya jatuh hati. Dan bagiku, itu lebih dalam dari sekadar cinta.

Lagu ini ditulis oleh Raisa Andriana / Rif'at S Fachir.


Raisa - Jatuh Hati (Lirik)

Ada ruang hatiku yang kautemukan
Sempat aku lupakan kini kausentuh
Aku bukan jatuh cinta
Namun aku jatuh hati

Ku terpikat pada tuturmu
Aku tersihir jiwamu
Terkagum pada pandangmu
Caramu melihat dunia

Kuharap kautahu bahwa ku
Terinspirasi hatimu
Ku tak harus memilikimu
Tapi bolehkah ku s'lalu di dekatmu?

Ada ruang hatiku kini kausentuh
Aku bukan jatuh cinta
Namun aku jatuh hati

Ku terpikat pada tuturmu
Aku tersihir jiwamu
Terkagum pada pandangmu
Caramu melihat dunia

Kuharap kautahu bahwa ku
Terinspirasi hatimu
Ku tak harus memilikimu
Tapi bolehkah ku s'lalu di dekatmu?

Katanya cinta
Memang banyak bentuknya
Kutahu pasti
Sungguh aku jatuh hati

Ku terpikat pada tuturmu
Aku tersihir jiwamu
Terkagum pada pandangmu
Caramu melihat dunia

Kuharap kautahu bahwa ku
Terinspirasi hatimu
Ku tak harus memilikimu
Tapi bolehkah ku s'lalu di dekatmu?
Tapi bolehkah ku s'lalu di dekatmu?

Share:

10/24/2025

.Feast - Kami Belum Tentu (Lirik)

.Feast – Kami Belum Tentu (Lirik)

Pagi itu, tiang bendera di halaman sekolah masih berdiri tegak. Benderanya lusuh, warnanya sudah pudar, tapi tetap dikibarkan setiap Senin. Matahari membakar ujung kainnya, tapi tak ada yang benar-benar peduli.

Raka berdiri di barisan paling belakang. Seragamnya kusut, rambutnya agak panjang. Ia tak ikut menyanyikan lagu kebangsaan — bibirnya hanya bergerak seolah hafal, tapi tanpa suara. “Untuk apa?” pikirnya. “Negeri ini tak pernah hafal namaku juga.”

Setelah upacara selesai, ia dan teman-temannya duduk di kantin sekolah. Di meja itu, selalu ada tiga orang: Raka, Dimas, dan Sinta. Mereka bertiga sering dianggap pemalas, padahal hanya terlalu banyak berpikir untuk anak seumuran mereka.

“Lo tahu, beasiswa buat kampus luar negeri dicabut lagi,” kata Sinta, membuka obrolan. “Katanya biar dana dialihkan buat pembangunan daerah.”

“Daerah mana?” tanya Dimas ketus. “Yang pejabatnya punya rumah di Jakarta?”

Mereka tertawa kecil, tapi tawanya getir.

Raka menatap layar ponsel — notifikasi berita berseliweran. Earth-03: Kerusuhan lagi. Earth-04: Perang nuklir lagi. Dunia seperti terus mengulang kesalahan yang sama, hanya ganti latar dan tahun.

Ia menatap langit. “Kita ini kayak penonton film yang udah tahu ending-nya, tapi tetep nonton karena nggak punya pilihan.”

Di kelas, guru mereka bicara soal “pemimpin masa depan”. Tentang harapan, integritas, dan semangat bangsa. Tapi suara guru itu seperti gema kosong di kepala Raka.

“Pemimpin di esok hari,” katanya dalam hati, “adakah yang cukup mampu? Atau cuma aktor yang ganti kostum?”

Ketika jam pelajaran selesai, mereka nongkrong di warung dekat sekolah. Di TV tua milik pemilik warung, berita menampilkan potongan video: pejabat berdoa di gereja, tapi beberapa hari lalu terekam memukul demonstran.

“Pura-pura bersih lagi,” gumam Dimas sambil menirukan gaya pidato. “Bagaikan Kalpataru.”

Sinta nyengir. “Sembah Tuhan tiap Minggu, tapi masih lempar batu.”

Mereka terdiam. Dunia terlalu ironis untuk ditertawakan, tapi terlalu menyedihkan untuk ditangisi.

Raka akhirnya membuka suara. “Kita dikasih hati, masih minta tambah paru,” katanya pelan. “Nggak pernah puas, padahal napas aja belum tentu cukup panjang buat berubah.”

Malam itu, Raka menulis di buku catatannya: Kita tumbuh di zaman yang bingung. Di mana pintar bisa kalah dari pencitraan, dan peduli dianggap pengkhianatan. Dunia berubah terlalu cepat, tapi hati manusia tak ikut maju. Kami belum tentu kuat, tapi kami juga belum tentu menyerah.

Di luar, lampu jalan padam. Listrik mati lagi. Tapi dari jendela kamarnya, Raka bisa melihat cahaya samar dari lilin kecil di meja.

Ia menatapnya lama-lama, lalu tersenyum kecil. “Setidaknya, api ini masih hidup,” bisiknya. “Dan mungkin… kami belum tentu kalah.”

Lagu ini ditulis oleh Dicky Renanda / Adrianus Aristo Haryo / Adnan Satyanugraha Putra / Fadli Fikriawan / Daniel Baskara Putra.


.Feast - Kami Belum Tentu (Lirik)

Tiang masih berdiri
Bendera makin tinggi
Berkibar tiap pagi
Dimakan matahari

Merah makin memudar
Yang bunglon merasa benar
Putih makin menguning
Yang pintar masih berpaling

Ditinggal beasiswa
Tenang, Kawan, tak apa
Bertahan buat apa?
Belum ada artinya

Masih dipeluk setan
Alergi peradaban
Alergi kemajuan
Mendorong kemunduran

Pemimpin di esok hari
(Adakah yang cukup mampu)
Mewakilkan suara kami?
(Jelas, tak ada yang tahu!)

Ada yang cukup peduli
Umat yang dikelabui
Melupakan masa lalu
(Namun, kami belum tentu!)

Earth-03, kerusuhan lagi
Earth-04, perang nuklir lagi
Jadikan pelajaran
Jangan sampai rusak beneran

Earth-02 masih main tusuk
Tiap hari kian buruk
Ayo, cepat, mending rujuk
Jangan sampai salah tunjuk

Pemimpin di esok hari
(Adakah yang cukup mampu)
Mewakilkan suara kami?
(Jelas, tak ada yang tahu!)

Ada yang cukup peduli
Umat yang dikelabui
Melupakan masa lalu
(Namun, kami belum tentu!)

Pemimpin di esok hari
(Adakah yang cukup mampu)
Mewakilkan suara kami?
(Jelas, tak ada yang tahu!)

Ada yang cukup peduli
Umat yang dikelabui
Melupakan masa lalu
(Namun, kami belum tentu!)

Apa guna gelar kami?
(Siapa yang sudah tahu)
Jadi apa tua nanti?
(Tentu, kami belum tahu!)

Tumblr, Reddit diblok lagi
(Siapa bilang situs biru?)
Untuk apa terkoneksi
(Jika masih mati lampu?)

Cukup dikasih hati
(Masih minta tambah paru)
Pura-pura bersih lagi
(Bagaikan Kalpataru)

Jelas-jelas tangan besi
(Masih berlagak rindu)
Sembah Tuhan tiap Minggu
(Tapi masih lempar batu)

Ada yang cukup peduli
Umat yang dikelabui
Melupakan masa lalu
(Namun, kami belum tentu!)

Ada yang cukup peduli
Umat yang dikelabui
Melupakan masa lalu
(Namun, kami belum tentu!)

Share:

10/23/2025

Ungu - SurgaMu (Lirik)

Ungu - SurgaMu (Lirik)

Azan subuh baru saja usai. Udara masih basah oleh embun, dan dari jendela kamar yang sedikit terbuka, cahaya matahari pelan-pelan menyusup. Di atas sajadah yang mulai pudar warnanya, seorang pria duduk dengan mata tertunduk. Namanya Arif. Sudah lama ia tidak merasakan tenang seperti pagi itu.

Hidupnya dulu penuh ambisi — pekerjaan, uang, kesenangan, semua dikejar tanpa henti. Tapi semakin banyak yang ia miliki, semakin hampa yang ia rasakan. Malam-malamnya sering dihabiskan dengan kegelisahan, bukan doa. Hingga suatu hari, kehilangan datang: ibunya meninggal tanpa sempat ia temui. Sejak saat itu, hidupnya terasa hancur.

“Mungkin ini teguran,” katanya pelan, waktu itu. Tapi teguran itu lama tak diindahkan. Ia masih berusaha mencari ketenangan di luar dirinya, hingga akhirnya kelelahan sendiri.

Suatu malam, tanpa alasan yang jelas, Arif mengambil air wudu. Tangan dan wajahnya gemetar ketika dinginnya air menyentuh kulit. Sudah bertahun-tahun ia tidak bersujud. Namun malam itu, ada sesuatu yang berbeda. Dalam sujudnya, ia menangis lama — bukan karena sedih, tapi karena sadar betapa selama ini ia jauh dari Tuhan.

“Segala yang aku punya… semua milik-Mu, ya Allah,” bisiknya lirih. “Jangan biarkan aku tersesat lagi.”

Sejak hari itu, hidup Arif perlahan berubah. Ia mulai menata lagi hubungannya dengan Sang Pencipta. Setiap langkah kecilnya disertai doa, setiap kegelisahan dibalas dengan dzikir. Ia sadar, selama ini yang ia cari bukan keberhasilan dunia, tapi ketenangan hati.

Kadang masih ada rasa sesal, masih ada rindu pada masa lalu yang salah arah. Tapi kini ia tahu, penyesalan adalah bagian dari perjalanan pulang. Ia belajar untuk memaafkan dirinya sendiri.

“Kalau aku masih bisa hidup sampai hari ini,” katanya pada dirinya sendiri di depan cermin, “itu artinya Tuhan belum menyerah padaku.”

Ketika malam datang lagi, Arif berdiri di teras rumahnya. Langit bersih, penuh bintang. Di dadanya, ada keheningan yang hangat. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu berbisik, “Allahu Akbar… Engkaulah tempat aku berteduh, dan hanya pada-Mu aku pulang.”

Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Arif benar-benar merasa damai.

Lagu ini ditulis oleh Franco Wellyjat Medjaja Kusumah.


Ungu - SurgaMu (Lirik)

Segala yang ada dalam hidupku
Kusadari semua milik-Mu
Ku hanya hamba-Mu yang berlumur dosa

Tunjukkan aku jalan lurus-Mu
Untuk menggapai surga-Mu
Terangiku dalam setiap langkah hidupku

Karena ku tahu
Hanya Kau Tuhanku

الله أكبر، Allah Maha Besar
Ku memuja-Mu di setiap waktu
Hanyalah pada-Mu tempat ku berteduh
Memohon ridha dan ampunan-Mu

Tunjukkan aku jalan lurus-Mu
Untuk menggapai surga-Mu
Terangiku dalam setiap langkah hidupku

Karena ku tahu (ha-aa)
Hanya Kau Tuhanku (hu-uu)

الله أكبر، Allah Maha Besar
Ku memuja-Mu di setiap waktu
Hanyalah pada-Mu tempat ku berteduh
Memohon ridha dan ampunan-Mu

Ho-oo
Wo-oo

الله أكبر، Allah Maha Besar
Ku memuja-Mu di setiap waktu
Hanyalah pada-Mu tempat ku berteduh
Memohon ridha dan ampunan-Mu

الله أكبر، Allah Maha Besar
Ku memuja-Mu di setiap waktu
Hanyalah pada-Mu tempat ku berteduh
Memohon ridha dan ampunan-Mu
Wo-oo

Share:

10/22/2025

Tenxi, Suisei & Jemsii - mejikuhibiniu (Lirik)

Tenxi, Suisei & Jemsii – mejikuhibiniu (Lirik)

Hidupku dulu hitam putih — sampai kau datang membawa warna. Merah di pipimu, jingga di tawamu, ungu di hatiku yang dulu beku. Kau seperti pelangi yang muncul setelah badai, membuat segalanya tampak indah, bahkan hal-hal kecil seperti hujan sore atau kopi tanpa gula.

“Mejikuhibiniu,” kataku waktu itu sambil tertawa. Kau hanya tersenyum — senyum yang kini terus terngiang di kepalaku, bahkan setelah semuanya hancur.

Aku pikir kita “satu untuk semua, semua untuk satu.” Ternyata, di antara kau dan aku… ada dia.

Awalnya aku mencoba biasa saja. Kubilang pada diri sendiri: ini cuma coba-coba. Tapi semakin kutahan, semakin aku tenggelam. Cintaku tumbuh seperti candu yang tak bisa disembuhkan. Aku bahkan sudah sempat mengucap “amin” di hati — membayangkan kita sampai ke pelaminan.

Namun semua berubah. Kau pergi, bersama seseorang yang bahkan tak kukenal namanya. Dan aku? Masih di sini, menatap bayanganmu yang tersisa di setiap warna pelangi yang kini terasa buram.

Aku bukan malaikat, aku tahu. Tapi aku juga bukan bajingan. Cinta ini nyata, bukan permainan. Apa pun yang kau mau, dulu selalu kucoba penuhi. Sekarang aku hanya bertanya dalam diam — apa kurangku sampai kau berpaling?

Kau bilang aku yang salah, kau putar semua cerita. Lucu, bagaimana cinta bisa berubah jadi saling menyalahkan. Tapi aku tahu, Tuhan melihat semuanya — dan mungkin itu cukup bagiku.

Sekarang semuanya sudah melebur — cinta, janji, harapan. Tapi satu hal yang tak bisa kuleburkan: perasaanku padamu. Karena meski kutahu kau telah pergi, di hatiku tetap hanya ada satu nama. Cuma kamu. Tiada yang lain.

Namun waktu tak mau berhenti. Mungkin, seperti warna yang pudar di langit sore, aku juga harus belajar memudar. Dan ketika pelangi terakhir itu hilang, aku tahu: sudah waktunya kucari warna lain, meski tak seindah dirimu — yang dulu pernah jadi seluruh mejikuhibiniu di hidupku.

Lagu ini ditulis oleh Tenxi, Suisei, dan Jemsii.


Raisa, Rony Parulian - Tetap Bukan Kamu (Lirik)

Mejikuhibiniu ku lihat kamu
Hidup penuh warna warni saat ku bersamamu
Satu untuk semua dan semua untuk satu
Kenapa ada dia di antara kau dan aku

Di antara kau dan a-
Di antara kau dan a-
Di antara kau dan aku
Di antara kau dan a-
Di antara kau dan a-

Cuma kamu tiada yang lain
Kubilang aku gak main main
Apa yang kau mau kuturutin
Sekarang kamu sama yang lain
Awalnya ku cuma cubain tapi ku ketagihan

Ku bilang amen sampai ke pelaminan
Tak akan bisa main
Semua mantan bajingan
Ulang lagi kucari yang lain

Tak sepantasnya
Bilang cinta kalo nggak bisa tahan
Putar fakta kau bilang aku yang salah
Yang tau semuanya ya cuma Tuhan

Apa masih kurang
Sungguh keterlaluan
Kukira takkan terulang
Saat ku nggak karuan
Ku tau kamu bersulang
Memang skarang semuanya telah hancur melebur
Tapi seenggaknya aku nggak pernah palsu

Kayak kamu kayak kamu kayak kamu
Cuma kamu cuma kamu cuma kamu
T'lah percuma ada dia di hatimu
Tapi untukku

Cuma kamu tiada yang lain
Kubilang aku gak main main
Apa yang kau mau kuturutin
Sekarang kamu sama yang lain

Awalnya ku cuma cubain
Tapi ku ketagihan
Ku bilang amen sampai ke pelaminan
Tak akan bisa main
Semua mantan bajingan
Ulang lagi kucari yang lain

Kucari yang lain
Kucari yang lain
Kucari yang lain
Kucari yang lain
Kucari yang lain
Kucari yang lain

Share:

10/21/2025

Navicula - Kembali Ke Akar (Lirik)

Navicula - Kembali Ke Akar (Lirik)

Angin sore berhembus pelan, membawa aroma tanah yang basah. Di antara desir dedaunan, aku mendengar bisikan lembut yang seolah datang dari masa lalu — suara para leluhur, dari akar yang jauh tertanam di bumi yang sama. “Kalian sudah jauh melangkah,” kata mereka lirih, “sampai lupa dari mana kalian berasal.”

Aku menatap langit. Dulu, langit seperti ini menjadi atap tempat kami berdoa. Tanah ini, yang kupijak setiap hari tanpa pikir panjang, dulu adalah saksi setiap langkah pertama manusia yang belajar mencintai kehidupan. Tapi kini, semuanya seperti berubah.

Kami menebang batang, mencabut akar, dan mengeringkan aliran yang dulu menumbuhkan kehidupan. Kami berlari terlalu cepat, menukar alam dengan angka, dan mengira kemajuan berarti meninggalkan asal. Dan di tengah gegap gempita dunia yang semakin bising, kami lupa mendengar suara air yang dulu kami sebut ibu.

Aku jadi teringat nasihat orang tua yang dulu sering dianggap remeh. “Jangan pernah lupa asalmu,” kata mereka. “Kalau kau lupa, angin tak lagi mengenal arah pulangmu.” Waktu itu aku tertawa — kini aku tahu, mereka sedang berbicara tentang kehilangan yang lebih dalam dari sekadar rindu.

Siapa diri kita, kalau bukan bagian dari tanah ini? Apa gunanya terbang tinggi, kalau akar kita sudah tercabut dari bumi?

Kini aku mengerti. Untuk bisa tumbuh, kita justru harus menunduk — kembali pada akar, pada yang sederhana, pada yang jujur. Karena dari sanalah hidup dimulai, dan ke sanalah kita akan pulang.

Aku menarik napas panjang, membiarkan udara memenuhi paru-paruku. Ada rasa syukur yang menetes pelan dari dada, dan doa yang lahir tanpa kata: “Kembali ke akar. Kembali pada asal. Kembali menjadi manusia yang tahu dari mana ia datang.”

Langit senja menutup hari dengan lembut, dan di bawahnya, aku berjanji dalam hati — untuk tak lagi lupa pada tanah yang selalu menungguku pulang.

Lagu ini ditulis oleh Gede Robi / Dadang Pranoto / Palel Atmoko / Krishna Adipurba.


Raisa, Rony Parulian - Tetap Bukan Kamu (Lirik)

Kita sudah keluar, mengkhianati akar
Mengkhianati batang, cabang, ranting yang menjalar
Kita lupa daratan, air, dan udara
Di tanah yang dipijak dan langit yang di atasnya

kembali ke akar

Nasihat orang tua, leluhur, moyang kita
Coba pikir dan rasa maksud dari semuanya
Siapa diri kita, oh, jangan sampai lupa
Apa yang kita punya, itulah yang kita jaga

kembali ke akar

Kita lupa daratan, air, dan udara
Di tanah yang dipijak dan langit yang di atasnya
Siapa diri kita, oh, jangan sampai lupa
Apa yang kita punya, itulah yang kita jaga

kembali ke akar
Yeah, yeah, kembali ke akar

Share:

10/20/2025

Raisa, Barsena Bestandhi - Awal Kisah Selamanya (Lirik)

Raisa, Barsena Bestandhi - Awal Kisah Selamanya (Lirik)

Aku selalu mencarimu di tempat yang salah. Di wajah orang asing, di antara tawa yang tak kukenali, bahkan dalam sepi yang kuciptakan sendiri. Kupikir kamu jauh, padahal… kamu tak pernah benar-benar pergi.

Aku baru sadar, selama ini kamu hanya bersembunyi di antara kebiasaanku—dalam tatapan yang sering bertemu tapi tak pernah benar-benar saling mengenal. Lucu, ya? Segalanya terasa begitu dekat, tapi tak terpikir sedikit pun bahwa mungkin… kamu adalah jawabannya.

Kini, setelah semua perjalanan panjang yang melelahkan, aku berhenti. Dan ketika mataku terbuka, di situlah kamu berdiri—tak lagi samar, tak lagi hanya bayangan di kepalaku. Hatiku berbisik pelan, “Ternyata dari dulu, memang kamu.”

Aku tak ingin lagi mencari yang tak pasti. Karena semua yang kucari, ternyata sudah ada di sini—di hadapan mataku, dengan tawa yang membuat dunia terasa ringan, dan senyum yang entah kenapa selalu bisa menenangkan.

Hari ini, untuk pertama kalinya, aku berani berkata, “Mari kita mulai sesuatu. Bukan sekadar kisah singkat, tapi awal dari selamanya.”

Kau tahu? Aku hafal baik burukmu. Aku tahu di mana kau paling takut, di mana kau paling malu, dan di mana kau paling butuh dipeluk tanpa bicara. Tapi justru di situlah aku jatuh cinta—bukan karena sempurnamu, tapi karena ketidaksempurnaan yang membuatmu nyata.

Jadi tak perlu lagi ragu, tak perlu menebak-nebak arah cinta ini. Aku tak ingin memenjarakanmu dalam janji manis, tapi aku ingin menunjukkan lewat setiap hari—bahwa cintaku bukan sekadar awal yang indah, melainkan perjalanan panjang yang ingin kujalani bersamamu.

Mulai hari ini, aku tak ingin mencarimu di tempat lain. Karena aku sudah menemukannya—di dalam dirimu.

Dan di antara setiap hembusan napas, aku berjanji dalam hati: “Hari ini kita mulai… awal dari kisah selamanya.”

Lagu ini ditulis oleh Lafa Pratomo Setio Windarko / Raisa Andriana / Barsena Bestandhi.


Raisa, Barsena Bestandhi - Awal Kisah Selamanya (Lirik)

Ke mana saja kamu
Padahal tak tersembunyi
Kusiapkan bujuk rayu
Jangan lagi ragu
Ku tak ingin terus buang waktu

Ternyata itu kamu
Padahal tak tersembunyi
Terbuka mata hatiku
Tak lagi meragu
Mengapa tak bilang dari dulu

Tak perlu kau cari-cari lagi yang tak pasti
Karena semua yang kau butuhkan ada di sini
Cuma aku, paling tahu
Hari ini kita mulai
Awal dari kisah selamanya

Tak kusangka, kau dan aku
Akhirnya, jadi satu
Tak pernah terbayangkan
Tawamu yang candu
Senyummu yang lugu
Kini jadi milikku

Tak perlu kau cari-cari lagi yang tak pasti
Karena semua yang kau butuhkan ada di sini
Cuma aku, paling tahu
Baik dan juga burukmu, yang buatmu malu

Tak perlu kau cari-cari lagi yang tak pasti
Karena semua yang kau inginkan ada di sini
Biarkanku, manjakanmu
Hari ini kita mulai
Awal dari kisah selamanya

Jangan percaya kata-kataku
Percaya apa yang, bisa kau rasa
Akan selalu ku menjaga
Bukan sekedar awalnya
Selamanya pun

Tak perlu kau cari-cari lagi yang tak pasti
Karena semua yang kau butuhkan ada di sini
Cuma aku, paling tau
Baik dan juga burukmu, yang buatmu malu

Tak perlu kau cari-cari lagi yang tak pasti
Karena semua yang kau inginkan ada di sini
Biar-biarkan aku, manjakanmu

Hari ini kita mulai
Hari ini kita mulai
Awal dari kisah selamanya

Awal dari kisah selamanya

Share:

10/19/2025

Raisa, Rony Parulian - Tetap Bukan Kamu (Lirik)

Raisa, Rony Parulian - Tetap Bukan Kamu (Lirik)

Sudah lama tak berjumpa, tapi entah kenapa, setiap kali bayanganmu melintas di benakku, rasanya seperti baru kemarin kita tertawa bersama. Aku masih ingat bagaimana senyummu dulu bisa membuat hari yang paling suram sekalipun terasa hangat. Tapi kini, ketika kulihat lagi senyum itu—walau hanya dari kejauhan—ada sesuatu yang berbeda. Kau tampak bahagia, tapi entah kenapa, hatiku tahu: bukan aku lagi yang jadi alasannya.

“Apa kabarmu?” ingin sekali aku bertanya dengan tulus. Tapi lidahku kelu. Yang akhirnya bisa kuucapkan hanya dalam hati: “Kabarku baik saja.” Padahal tidak sepenuhnya benar. Aku mencoba terlihat ceria, tertawa di antara orang-orang, tapi di antara tawa itu, ada jeda yang selalu terisi oleh bayanganmu.

Malam-malamku sering terjebak di antara kenangan dan keikhlasan. Aku mencoba menenangkan diri, meyakinkan hati bahwa semuanya sudah berakhir, bahwa kita hanyalah masa lalu yang indah tapi tak lagi bisa disatukan. Namun setiap kali aku menatap langit, aku masih ingin berlari ke arahmu—sekadar memastikan kau benar-benar baik-baik saja.

Aku sudah mencoba berjalan sendiri, mencoba membuka hati pada orang lain. Tapi anehnya, setiap wajah yang datang hanya menjadi perbandingan yang tak adil denganmu. Siapa pun yang menghampiri, bagaimana pun mereka berusaha… tetap bukan kamu.

Kadang aku tertawa, pura-pura bahagia. Kadang aku berpaling, seolah tak peduli. Tapi saat matamu menatap mataku walau sesaat, semua pura-pura itu runtuh begitu saja. Aku kembali menjadi diriku yang dulu—yang mencintaimu tanpa syarat.

Aku tahu, kita tak akan kembali. Tapi, bisakah aku jujur sedikit saja? Masih ada bagian dari diriku yang menyimpan serpihan kenangan itu. Mungkin tidak sempurna. Mungkin sudah usang. Tapi nyata—dan tak tergantikan.

Kini, aku berjalan lagi. Mencari, melangkah, tersenyum pada dunia. Namun di antara semua langkah itu, ada bisikan lembut yang selalu menemaniku: “Ke mana pun aku pergi, siapa pun yang kutemui, tetap bukan kamu.”

Lagu ini ditulis oleh Raisa Andriana / Rendy Pandugo / Rony Parulian.


Raisa, Rony Parulian - Tetap Bukan Kamu (Lirik)

Apa kabarmu kabarku baik saja
Kau tampak bahagia
Meski senyum mu berbeda
Walau mungkin tak sempurna
Apa masihkah tersisa
Kenangan
Tentang kita

Apa kabarmu kabarku baik saja
Berusaha tuk selalu terus ceria
Meski sering ku tak kuasa
Tenggelam dalam kenangan
Tentang kita
Tentang kita

Jangan berfikir tuk kembali
Namun ke arahmu ku ingin berlari
Mencoba jalani sendiri
Yakinkan diriku mencari pengganti
Tak berarti
Siapa pun
Yang hampiri
Tetap bukan
Kamu

Apa kabarmu kabarku baik saja
Kau tampak bahagia
Meski ku berpura-pura
Jangan hindari mataku
Aku tak mau terhanyut
Dalam rindu
Tentang kita

Jangan berfikir tuk kembali
Namun ke arahmu ku ingin berlari
Mencoba jalani sendiri
Yakinkan diriku mencari pengganti
Tak berarti
Siapa pun
Yang hampiri
Tetap bukan

Apa masih kah tersisa
Walau jelas tak sempurna
Kenanganmu
Tentang kita

Jangan berfikir tuk kembali
Namun ke arahmu ku ingin berlari
Mencoba jalani sendiri
Yakinkan diriku mencari pengganti
Tak berarti

Siapa pun
Yang hampiri
Apapun yang ku temui
Ke mana pun ku mencari
Tetap bukan kamu uh
Bukan kamu uh

Share:

10/18/2025

Rombongan Bodonk Koplo - Calon Mantu Idaman ft. Ncum (Lirik)

Rombongan Bodonk Koplo - Calon Mantu Idaman ft. Ncum (Lirik)

Malam terasa lebih lambat dari biasanya. Di antara lampu-lampu kota yang berpendar lembut, aku mendengar suaramu—suara yang begitu tenang, tapi mampu membuat seluruh isi dadaku bergetar. Ada sesuatu di nada itu, sesuatu yang menyerupai cinta, atau mungkin hanya ilusi yang dengan sengaja kau biarkan tumbuh di kepalaku.

Tatapan matamu malam itu—Tuhan, rasanya seperti dunia berhenti berputar. Aku lupa bernapas, lupa bicara, bahkan lupa bahwa di dunia ini masih ada hal lain selain dirimu.

Ketika bibirmu menyentuh pipiku, aku tahu aku sudah kalah. Kecupan itu manis, singkat, tapi cukup untuk membuatku ingin lebih dekat—menyatu. Kau terus mendekat, dan aku membiarkanmu. Biarlah, pikirku, sekali saja aku tenggelam di dekapanmu.

Hatiku berdetak cepat. Tick-tock, tick-tock. Seolah waktu pun ikut terpaku. Aku terjebak di dalam “ziplock” perasaan ini, tak bisa keluar, tak ingin lepas. Aku percaya, mungkin ini keberuntunganku—memilikimu, walau mungkin hanya sebentar.

Aku ingin percaya, bahwa kita bisa melawan dunia bersama. Hanya aku dan kamu. Selamanya aku milikmu, dan kamu milikku. Tapi di dalam hati kecilku, aku masih bertanya: Apakah kamu juga merasakannya, seperti aku?

Aku bahkan sudah bisa membayangkan diriku duduk di ruang tamu rumahmu, mencoba mencuri hati ibumu dengan tawa yang sopan dan senyum yang tulus. “Aku calon mantu terbaik untuk mamamu,” candaku dalam hati—setengah serius, setengah berharap.

Tapi kau tetap saja sulit. Hatimu keras seperti batu. Kau pergi, lalu datang, lalu pergi lagi. Dan aku... tetap memikirkanmu, entah kenapa. Tak peduli apa yang kau lakukan, bayanganmu selalu ada—menghantui pikiranku seperti lagu yang tak selesai dimainkan.

Kadang aku rindu. Rindu yang membuat dada sesak dan pikiran resah. Aku ingin bertemu, hanya untuk memelukmu sebentar. Sekadar memastikan bahwa kau nyata, bukan sekadar imaji di kepala.

“Baby,” kataku dalam hati, “apakah kau juga merasakan hal yang sama?”

Mungkin ini hanya permainan kecil dari semesta. Mungkin aku hanya sedang bermain-main dengan perasaanku sendiri. Tapi jika aku boleh jujur... aku ingin kau tinggal malam ini. Hanya malam ini. Mungkin segalanya akan baik-baik saja.

Dan di tengah keheningan itu, hatiku kembali berdetak—pelan, tapi pasti. Tick-tock, tick-tock. Seolah berbisik lembut: “Selamanya aku milikmu... dan kau milikku.”

Lagu ini ditulis oleh Giant Trinanda Prayudha / Aji Suherri / Putri Maulana Clarisya.


Rombongan Bodonk Koplo - Calon Mantu Idaman ft. Ncum (Lirik)

Suara lembutmu
Mengisyaratkan cinta
Tatap matamu
Buatku menggila

Kecup manismu
Wanna be all over you
Terus mendekat
Biar kudekap, ah

Tick-tock, hatiku kau-ziplock
Makin lama it's stuck
Ku percaya ini with my luck
It's just me and you against the world
Forever I'm yours and you'll be mine

But do you feel it too like the way I do?
Aku calon mantu terbaik mamamu
Walaupun hatimu sekeras batu
Still got you on my mind, no matter what you do

But do you feel it too like the way I do?
Aku calon mantu terbaik mamamu
Walaupun hatimu sekeras batu
Still got you on my mind, no matter what you do

Baby, aku rindu, resah s'lalu, ingin bertemu
Hold you in my arms
Baby, tell me, do you feel it too?
Main-main, ku cuma main-main
Stay for the night, maybe it'll be alright

Tick-tock, hatiku kau-ziplock
Makin lama it's stuck
Ku percaya ini with my luck
It's just me and you against the world
Forever I'm yours and you'll be mine

But do you feel it too like the way I do?
Aku calon mantu terbaik mamamu
Walaupun hatimu sekeras batu
Still got you on my mind, no matter what you do

But do you feel it too like the way I do?
Aku calon mantu terbaik mamamu
Walaupun hatimu sekeras batu
Still got you on my mind, no matter what you do

But do you feel it too like the way I do?
Aku calon mantu terbaik mamamu
Walaupun hatimu sekeras batu
Still got you on my mind, no matter what you do

But do you feel it too like the way I do?
Aku calon mantu terbaik mamamu
Walaupun hatimu sekeras batu
Still got you on my mind, no matter what you do

Share:

10/17/2025

Lyodra - Bodohnya Aku (Lirik)

Lyodra - Bodohnya Aku (Lirik)

Malam sudah lama menutup mata, tapi pikiranku masih saja terjaga. Ada satu janji yang terus bergema di kepalaku — janji setia yang dulu kau ucap dengan mata yang tak pernah kulupakan. Aku masih ingat betul caramu tersenyum waktu itu, seolah dunia berhenti hanya untuk kita berdua. Tapi kini, aku bahkan tak tahu di mana dirimu berada.

Kau datang dan pergi semaumu, seperti angin yang tak pernah bisa kutangkap. Aku menunggu, menebak-nebak arah langkahmu, berharap kali ini kau kembali untuk tinggal. Tapi setiap kali kau muncul, yang tersisa hanya luka baru. Aku bertanya dalam hati, mengapa hanya aku yang selalu terluka? Apakah cintaku memang tak cukup berharga untuk dihargai?

Aku mencoba kuat. Mencoba mengingat semua kisah yang pernah kita lalui—tawa di bawah hujan, genggaman tangan yang membuat dunia terasa aman. Tapi kini, yang tersisa hanya sepi yang menempel di dinding kamar, dan aku yang masih bodoh menantimu pulang.

Aku tahu, mencintaimu sama saja dengan menunggu badai reda di musim yang tak pasti. Tapi meski logika menertawakanku, hatiku tetap memilih diam di sini. Kau mungkin tak tahu, tapi perjuanganku untukmu tak pernah main-main. Jika harus melepasmu, aku tak tahu bagaimana caranya. Sebab sampai detik ini, kau masih menempati ruang paling tenang di dalam hatiku.

Dan di antara semua luka, aku hanya bisa berbisik dalam hati — “Kalau saja kau tahu, aku masih di sini. Menjaga janji yang dulu kau tinggalkan di tengah perjalanan.”

Lagu ini ditulis oleh Clara Riva, S/EEK, dan Lyodra Ginting.


Lyodra - Bodohnya Aku (Lirik)

Satu yang tak kan ku lupa
Janjimu kan setia
Entah kemana perginya
Coba jelaskan padaku
Yang terjadi
Diantara kita

Aku harus bagaimana
Kamu datang semaunya
Mengapa hanya diriku yang terluka
Ini hati
Tolong hargai

Entah kemana perginya
Coba jelaskan padaku
Yang terjadi
Diantara kita

Aku harus bagaimana
Kamu datang semaunya
Mengapa hanya diriku yang terluka
Ini hati
Tolong hargai

Coba ingat-ingat lagi
Kisah yang kita lalui
Bodohnya ku masih setia menantimu
Tuk kembali
Mencintai

Kamu yang ku perjuangkan
Takkan mudah untuk ku lepaskan
Hingga kini sampai nanti
Tetap di hati

Oh-uh ho-ho ho ho
Datang semaunya
Mengapa hanya diriku yang terluka
Ini hati
Tolong hargai

Coba ingat-ingat lagi
Kisah yang kita lalui
Bodohnya ku masih setia menantimu kembali
Mencintai
Ha ah-ah-ah-ah

Share:

10/16/2025

Sadewok - Sabar (Lirik & Terjemahan)

Setiap hari rasanya tak karuan. Kopi manis yang biasanya jadi pelipur, kini terasa pahit menyesakkan. Mangut lele pun seolah kehilangan cita rasanya—entah kenapa, lidah ini cuma mampu mengecap getir yang sama. Mungkin beginilah rasanya hidup tanpa pegangan, tanpa seseorang yang bisa disebut “rumah.”

Dalam hati kecilku, masih terucap doa lirih, Cintaku, mbokyo aja nesu maneh. Aku tahu, tak semua yang kulakukan selalu benar di matamu. Kadang caraku mencintai terasa canggung, kadang juga terlalu sederhana untuk kamu yang indah. Tapi sungguh, tak ada niat sedikit pun untuk menyakitimu. Wajahmu yang lembut itu… eman rasanya kalau harus diliputi murka.

Sayang, maafkan aku—sejauh ini aku masih belajar memahami dunia dan hatimu sekaligus. Mungkin aku belum bisa memenuhi semua keinginanmu sekarang, tapi percayalah, akan ada hari di mana aku bisa mewujudkannya. Aku tak tahu bagaimana caranya, tapi aku akan berusaha, meski dengan cara paling sederhana yang kumiliki.

Cintaku takkan luntur, sayangku takkan goyah—meski keadaan sering terasa rapuh. Aku bukan yang sempurna, tapi aku akan tetap setia, tidak akan berpaling. Karena bagiku, kamu adalah satu-satunya yang membuat hari-hari tak karuan ini terasa berharga. Terima kasih, sudah tetap di sini, menemani aku, di setiap hari yang getir—dan tetap membuatnya manis dengan senyummu.

Lagu ini ditulis oleh Sadewok.


Sadewok - Sabar (Lirik)

Sabendino rasane rakaruan
ngombe kopi legi neng rasane pait tenan
Mangan mangut lele rasane kok podo tempe
opo koyo ngene rasane wong ora ndue

Cintaku mbokyo sampun le nesu-nesu
kabeh iso rasah kudu nganggo mecucu
emanen paras ayumu ndak bedo karo atimu
rungokno tembangan manisku

Duh sayang ngapuntene saestu
yen dereng saget nuruti opo karepmu
tapi ojo sumelang ono dino liyane bakal
tak upayake mbuh kepie corone

Tresnoku ora bakal luntur sayangku rabakal goyah senajan kahanane bubrah
aku bakal setia ora mungkin mendua matursuwun sampun ono ngancani neng sabendino


Sadewok - Sabar (Lirik Terjemahan)

Setiap hari rasanya tidak karuan.
Minum kopi manis, tapi rasanya pahit sekali.
Makan mangut lele, kok rasanya seperti tempe.
Apa begini rasanya orang yang sedang tidak punya apa-apa?

Cintaku, tolonglah, jangan marah-marah lagi.
Semua bisa dibicarakan tanpa harus dengan wajah cemberut.
Sayang sekali wajahmu yang begitu manis, jangan sampai berubah karena amarahmu.
Dengarkanlah nyanyianku ini, manisku.

Duh, sayang… maafkan aku sungguh-sungguh,
Kalau aku belum bisa menuruti semua keinginanmu.
Tapi jangan khawatir, akan ada hari lain nanti,
Aku akan berusaha, entah bagaimana caranya.

Cintaku tak akan luntur, sayangku takkan goyah,
Walau keadaan kita sedang sulit dan berantakan.
Aku akan tetap setia, tak mungkin mendua.
Terima kasih, sudah mau menemaniku setiap hari.


Lirik ini menggambarkan seorang pria sederhana yang sedang menjalani hari-hari sulit, tapi masih punya satu hal yang membuatnya bertahan: cinta. Ia merasakan getir kehidupan, tapi juga tahu bahwa cintanya adalah satu-satunya hal yang membuat semua terasa berarti. Meski belum bisa memberikan banyak, ia berjanji akan terus berusaha dan tetap setia pada kekasihnya.

Kesan dari lagu ini: jujur, tulus, dan apa adanya — seperti cinta orang desa yang sederhana tapi intens.

Share:

10/15/2025

Rizky Febian & Adrian Khalif - Alamak (Lirik)

Rizky Febian & Adrian Khalif - Alamak (Lirik)

Entah ulah siapa yang membuatku seperti ini—gelisah tapi bahagia, bingung tapi senyum-senyum sendiri. Langit sore ini sedang cantik-cantiknya, jingga menetes di antara awan. Tapi bagiku, semua itu terasa biasa saja. Karena satu-satunya pemandangan yang mampu membuatku terpana… adalah dia.

Setiap kali ia lewat, lututku seperti kehilangan tulang. Bibirku ingin menyapa, tapi keberanian tak pernah datang bersamaan. Memandangnya saja sudah cukup membuat seluruh tubuhku gemetar. Mata, pundak, lutut, kaki—semuanya seolah ikut jatuh cinta.

Aku membayangkan, andai suatu hari aku benar-benar memilikinya, mungkin aku tak akan tidur lagi. Takut esok ia pergi dan semuanya hanya jadi mimpi.

Kalau hidup memberiku sembilan nyawa, semuanya akan kuserahkan untuk bersamamu. Karena di dadaku, tak ada lagi ruang kosong—semuanya telah terisi oleh dirimu. Alamak, apakah ini yang namanya jatuh cinta?

Kadang aku ingin memastikan, apakah perasaan ini nyata atau hanya khayalanku sendiri. Kalau bisa, cubit aku sekarang. Biar aku tahu ini bukan mimpi. Dan bila kau berkenan, bolehkah aku datang menemui orang tuamu? Hanya sebentar saja, untuk bilang: “Aku serius dengan putri mereka.”

Tapi jika kau tak punya perasaan yang sama, katakan saja. Aku akan berusaha menahan semuanya. Hanya… jangan terus menatap seperti itu, karena setiap tatapanmu menumbuhkan harapan yang membuatku lemah.

Andai aku punya sembilan nyawa, semuanya akan tetap memilihmu. Karena hatiku, dadaku, dan seluruh ragaku… sudah penuh denganmu.

Langit terasa lebih indah, tapi tak seindah senyummu. Dan malam ini, aku hanya bisa tertawa kecil sambil berbisik pada diri sendiri, “Gila, begini rupanya jatuh cinta.”

Lagu ini ditulis oleh Adrian Khalif, Belanegara Abe, Iqbal Siregar, Kaleb J, dan Rizky Febian.


Rizky Febian & Adrian Khalif - Alamak (Lirik)

Ulah siapa yang bisa buatku begini?
Gila, ini bahagia apa menderita?
Langit lagi bagus-bagusnya
Tapi bagiku biasa saja
Dia buatku terkesima

Menyapamu tak berani
Menciummu apalagi
Mata, pundak, lutut, kaki
Gemetar ku berdiri

Kalau sampai kumiliki
Tak mau ku tidur lagi
Alamat malah nanti kau pergi

Kalau ada
Sembilan nyawa
Mau samamu saja
Semuanya
Ini dada
Isinya kamu semua
Alamak, inikah jatuh cinta?

Apa kamu sayang?
Apa khayalan? Cubit aku sekarang
Buat mabuk kepayang
Seketika pingsan, mana nafas buatan?
Can I see you for a minute?
Boleh aku visit?
See your mom and dad, aku pamit
Kalau memang naga-naganya kau berkenan
Ku berangkat sekarang

Menyapamu tak berani
Menciummu apalagi
Mata, pundak, lutut, kaki
Gemetar ku berdiri

Kalau sampai kumiliki
Tak mau ku tidur lagi
Alamat malah nanti kau pergi
Ye-hey

Kalau ada
Sembilan nyawa
Mau samamu saja (Alamak, ku jatuh cinta)
Semuanya
Ini dada (Ada Anda di dada, ada Anda di dada)
Isinya kamu semua
Alamak, inikah jatuh cinta?

Minimal kau bilang
Bila kau tak sayang, yeah
Biar ku tahan perasaan
Jadi berhenti kau menatap
Karena ku tak kuat, tak kuat (Ku tak kuat, ku tak kuat)
Berharap

Kalau ada
Sembilan nyawa
Mau samamu saja
Semuanya
Ini dada (Coba buka)
Isinya kamu semua (Duh, gawat, ini ku jatuh cinta)

Kalau ada
Sembilan nyawa
Mau samamu saja (Langit, kau mempesona)
Semuanya (Nggak mau yang lain-lainnya)
Ini dada
Isinya kamu semua (Semuanya)
Alamak, inikah jatuh cinta

Gila
Bagaimanakah ini aku telah jatuh cinta?
Alamak, inikah jatuh cinta?

Share:

10/14/2025

Nakama - Dia Delícia (Lirik & Terjemahan)

Nakama - Dia Delícia (Lirik & Terjemahan)

Malam turun dengan perlahan, seakan ikut bersekongkol dengan dua hati yang tak lagi bisa menahan rindu. Di bawah cahaya lampu redup, mereka saling menatap — diam, tapi penuh arti. Ada sesuatu di udara malam itu, sesuatu yang membuat waktu terasa lebih lambat, napas lebih dalam, dan dunia seolah berhenti hanya untuk mereka berdua.

Dia tersenyum kecil, gugup tapi juga bahagia. Ada ketulusan di matanya, seperti ingin mengatakan: “Aku di sini, tanpa topeng, tanpa pura-pura.” Dan ketika tangan mereka bersentuhan, tak ada lagi yang perlu dijelaskan. Semua kata yang tak pernah sempat diucapkan kini berubah jadi keheningan yang hangat.

Mereka bukan sedang membicarakan cinta — mereka menghidupinya. Bukan dengan janji-janji indah, tapi dengan tatapan dan sentuhan lembut yang mengatakan lebih banyak dari seribu puisi.

Malam itu tak perlu disaksikan siapa pun. Hanya bintang-bintang yang diam di langit, dan dua jiwa yang akhirnya berani melepas semua ragu, menemukan rumah di pelukan satu sama lain.


Lirik lagu itu menggambarkan hubungan yang sangat fisik dan penuh gairah antara dua orang. Namun, di balik nada dan kata-kata kasarnya, sebenarnya ada ekspresi hasrat, daya tarik, dan kemesraan — seseorang yang begitu tergoda dan ingin menyalurkan rasa cintanya dengan cara yang intens.

Lagu ini memang bukan tentang kasih sayang yang lembut, melainkan lebih menonjolkan nafsu dan kenikmatan fisik, yang digambarkan dengan bahasa jalanan yang lugas dan provokatif. Secara musikal, lagu ini ingin menunjukkan dominasi, kepercayaan diri, dan energi liar, khas genre funk atau baile funk dari Brasil.


Lagu ini berasal dari Brasil, berbahasa Portugis. Berdasarkan data di Shazam, penulis lagu “DIA DELÍCIA” adalah Nakama, Patrick Barbosa Staff Dos Santos, dan ΣP


Nakama - Dia Delícia (Lyrics)

Ela tá cheia de tesão
Eu vou te foder com amor
Mina linda, safadinha
Arregaça esse popô, vai

Vai que é se- vai que é se-
Vai que é se- vai que é se-
Vai que é sem caô
E-ela cheia de tesão
E eu arregaço esse popô

Vai-vai-vai, vai que é se- vai que é se-
Vai que é se- vai que é se-
Vai que é sem caô
Ela tá cheia de tesão
E eu arregaço esse popô

Ela tá cheia de tesão
Eu vou te foder com amor
Mina linda, safadinha
Arregaça esse popô, vai

Vai que é sem caô
Vai-vai-vai, vai que é sem caô
Ela cheia de tesão
E eu arregaço esse popô (vai)

Vai que é sem caô
Vai-vai-vai, vai que é sem caô
Ela tá cheia de tesão
E eu arregaço esse popô (vai)

Vai que é se- vai que é se-
Vai que é se- vai que é se-
Vai que é sem caô
Ela tá cheia de tesão
E eu arregaço esse popô

Ela tá cheia de tesão
Eu vou te foder com amor
Mina linda, safadinha
Arregaça esse popô (vai)

Cheia de tesão-ão-ão-ão-ão
Eu vou te foder com amor
Mina lin- mina lin- mina lin-
Mina linda, safadinha
Arregaça esse popô, vai

Vai que é sem caô
Vai, vai que é sem caô, ô


Nakama - Dia Delícia (English Translation)

She is horny
Ela tá cheia de tesão

I will fuck you with love
Eu vou te foder com amor

Beautiful, naughty girl
Mina linda, safadinha

Roll up that popô, go
Arregaça esse popô, vai
It's going to be se- it's going to be se-
Vai que é se- vai que é se-

It's going to be se- it's going to be se-
Vai que é se- vai que é se-

It's going to be no caô
Vai que é sem caô

S-she's horny
E-ela cheia de tesão

And I roll up this popô
E eu arregaço esse popô
Go-go-go, go, go, go, go, go, go, go, go, go, go, go, go, go, go, go, go, go, go,
Vai-vai-vai, vai que é se- vai que é se-

It's going to be se- it's going to be se-
Vai que é se- vai que é se-

It's going to be no caô
Vai que é sem caô

She is horny
Ela tá cheia de tesão

And I roll up this popô
E eu arregaço esse popô
She is horny
Ela tá cheia de tesão

I will fuck you with love
Eu vou te foder com amor

Beautiful, naughty girl
Mina linda, safadinha

Roll up that popô, go
Arregaça esse popô, vai
It's going to be no caô
Vai que é sem caô

Go-go-go, go without caô
Vai-vai-vai, vai que é sem caô

She's horny
Ela cheia de tesão

And I roll up this popô (go)
E eu arregaço esse popô (vai)
It's going to be no caô
Vai que é sem caô

Go-go-go, go without caô
Vai-vai-vai, vai que é sem caô

She is horny
Ela tá cheia de tesão

And I roll up this popô (go)
E eu arregaço esse popô (vai)
It's going to be se- it's going to be se-
Vai que é se- vai que é se-

It's going to be se- it's going to be se-
Vai que é se- vai que é se-

It's going to be no caô
Vai que é sem caô

She is horny
Ela tá cheia de tesão

And I roll up this popô
E eu arregaço esse popô
She is horny
Ela tá cheia de tesão

I will fuck you with love
Eu vou te foder com amor

Beautiful, naughty girl
Mina linda, safadinha

Roll up that popô (go)
Arregaça esse popô (vai)
Horny-ão-ão-ão-ão
Cheia de tesão-ão-ão-ão-ão

I will fuck you with love
Eu vou te foder com amor

Mina lin- mina lin- mina lin-
Mina lin- mina lin- mina lin-

Beautiful, naughty girl
Mina linda, safadinha

Roll up that popô, go
Arregaça esse popô, vai
It's going to be no caô
Vai que é sem caô

Go, go, it's no caô, oh
Vai, vai que é sem caô, ô

Share:

10/13/2025

Rio Satrio - Senja Diaksara Bintang (Lirik)

Rio Satrio - Senja Diaksara Bintang

Hari ini terasa berbeda. Ada sesuatu di udara yang tak bisa dijelaskan—seolah langit tahu, sesuatu yang indah baru saja lahir di dunia. Angin berembus lembut, membawa aroma tanah yang baru tersentuh hujan. Dan di antara warna jingga senja yang perlahan turun, aku merasa... Tuhan sedang tersenyum.

Aku berdiri menatap langit, membiarkan rasa bahagia mengalir tanpa bisa kutahan. Entah apa yang menantiku di hari tua, entah seberapa besar beban yang kelak harus kupikul. Tapi hari ini, semua kekhawatiran kalah oleh bahagia yang sederhana: kehadiranmu.

Ada getar di dada ketika kuingat detik pertama aku melihatmu—kecil, rapuh, tapi hangat seperti cahaya yang menembus kabut tebal hidupku. Sejak itu, setiap senja memiliki makna baru. Aku tak lagi takut pada malam, sebab di ujung langit ada satu titik cahaya kecil yang memanggil namaku.

“Selamat datang di bumi, bintang kecilku,” bisikku pelan. Kau datang membawa warna baru bagi hariku yang dulu kelabu. Kau menulis aksara bahagia di langit senja, menggantikan cemas yang lama bersarang di hati.

Dan aku tahu kini, tanpa kamu… dunia takkan pernah sama.

Matahari mulai tenggelam sepenuhnya, menyisakan cahaya oranye di tepi awan. Dalam diam, aku berjanji: akan kujaga bintang kecilku dengan seluruh jiwa.

Sebab sejak kau hadir, aku tak lagi memandang senja dengan takut. Aku memandangnya dengan syukur.

Lagu ini ditulis oleh Rio Satrio, yang merupakan persembahan spesial dari Rio Satrio untuk anaknya yang bernama Diaksara Bintang, yang lahir pada tanggal 20 Oktober 2018.


Rio Satrio - Senja Diaksara Bintang (Lirik)

Hari ini terasa berbeda
Langit seperti tak mampu menahan senangku
Entah apa yang kan terjadi hingga ku tua
Namun khawatirku kalah dengan bahagia

Takut selalu hadir kala kutatap senja
Namun satu titik hadir di ujung langit

Selamat datang di bumi bintang kecilku
Kau warnai senja dihari ini
Kau tuliskan aksara di langit senja
Dan takkan mampu diriku tanpa ada kamu

Terus teranglah bintangku
Terus teranglah bintangku
Terus teranglah bintangku

Takut selalu hadir kala kutatap senja
Namun satu titik hadir di ujung langit

Selamat datang di bumi bintang kecilku
Kau warnai senja dihari ini
Kau tuliskan aksara di langit senja
Dan takkan mampu diriku tanpa ada kamu
Dan takkan mampu diriku tanpa ada kamu

Terus teranglah bintangku
Terus teranglah bintangku
Terus teranglah bintangku

Share:

10/12/2025

Taylor Swift - exile (ft. Bon Iver) Lirik & Terjemahan

Taylor Swift - exile (ft. Bon Iver) Lirik & Terjemahan

Aku melihatmu berdiri di sana — dengan lengannya yang melingkar di tubuhmu. Kau tertawa, tapi aku tahu tawa itu kosong. Bukan karena leluconnya hambar, melainkan karena hatimu sudah tak ada di sana. Butuh lima menit bagimu untuk mengemasi segalanya. Lima menit untuk memadamkan tahun-tahun yang dulu kita nyalakan bersama. Kini aku berdiri di lorong, memegang sisa cinta yang tak sempat kuberikan, sementara kau sudah berjalan menjauh tanpa menoleh.

Aku pernah menonton film ini sebelumnya, dan aku tak menyukai akhirnya.
Dulu, kau adalah tanah airku — tempat aku pulang, tempat aku merasa aman. Tapi kini, aku hanya seorang pengungsi yang diasingkan dari hatimu sendiri.
Kau adalah kotaku, dan kini aku diusir darinya.

Aku masih bisa melihat caramu menatap. Tatapan yang dulu untukku, kini kau berikan pada seseorang yang bahkan belum hafal nadamu.
Kau tampak seolah hanya sedang berakting, seperti semuanya hanyalah panggung sandiwara yang harus dijalani agar tak tampak bersalah. Tapi aku tahu, dalam hatimu, ada sisa perih yang kau sembunyikan — sama seperti aku.

Kita dulu selalu berjalan di garis tipis — antara cinta dan hancur, antara saling memahami dan saling menyalahkan.
Aku berbicara, tapi kau tak mendengar. Aku memberi tanda, tapi kau tak pernah melihat.
Kau tak pernah memberi peringatan, sementara aku berteriak dalam diam — memberi begitu banyak isyarat yang tak pernah kau tangkap.

Kini aku tahu, kita hanyalah dua orang yang tersesat dalam film yang sama, tapi dengan naskah yang berbeda.
Kau menulis akhirmu dengan pergi, dan aku menulis milikku dengan diam.

Jadi, aku melangkah keluar lewat pintu samping. Tanpa air mata, tanpa drama, tanpa janji untuk kembali. Karena tak ada lagi yang bisa kulakukan selain menerima bahwa rumah yang dulu kita bangun, kini hanya reruntuhan kenangan.

Aku pernah menonton film ini sebelumnya, dan aku tahu bagaimana akhirnya.
Kali ini, aku memilih keluar sebelum tirai tertutup sepenuhnya.

Lagu ini ditulis oleh Timothy Alan Pagnotta.


Taylor Swift - exile ft. Bon Iver (Lyrics)

I can see you standing, honey
With his arms around your body

Laughing, but the joke's not funny at all
And it took you five whole minutes
To pack us up and leave me with it
Holding all this love out here in the hall

I think I've seen this film before
And I didn't like the ending
You're not my homeland anymore
So, what am I defending now?
You were my town
Now I'm in exile, seeing you out
I think I've seen this film before

I can see you staring, honey
Like he's just your understudy
Like you'd get your knuckles bloody for me

Second, third, and hundredth chances
Balancing on breaking branches
Those eyes add insults to injury

I think I've seen this film before
And I didn't like the ending
I'm not your problem anymore
So, who am I offending now?
You were my crown
Now I'm in exile, seeing you out
I think I've seen this film before
So, I'm leaving out the side door

So step right out, there is no amount
Of crying, I can do for you
All this time
We always walked a very thin line
You didn't even hear me out (you didn't even hear me out)
You never gave a warning sign (I gave so many signs)

All this time
I never learned to read your mind (never learned to read my mind)
I couldn't turn things around (you never turned things around)
'Cause you never gave a warning sign (I gave so many signs)
So many signs, so many signs
You didn't even see the signs

I think I've seen this film before
And I didn't like the ending
You're not my homeland anymore
So, what am I defending now?
You were my town
Now I'm in exile, seeing you out
I think I've seen this film before
So, I'm leaving out the side door

So step right out, there is no amount
Of crying, I can do for you
All this time
We always walked a very thin line
You didn't even hear me out (didn't even hear me out)
You never gave a warning sign (I gave so many signs)

All this time
I never learned to read your mind (never learned to read my mind)
I couldn't turn things around (you never turned things around)
'Cause you never gave a warning sign (I gave so many signs)

All this time (so many signs)
I never learned to read your mind (so many signs)
I couldn't turn things around (I couldn't turn things around)
'Cause you never gave a warning sign (you never gave a warning sign)
You never gave a warning sign
Ah, ah


Taylor Swift - exile ft. Bon Iver (Terjemahan Lirik)

Aku bisa melihatmu berdiri di sana, sayang
Dengan lengannya melingkari tubuhmu
Kau tertawa — tapi lelucon itu sama sekali tidak lucu.

Dan kau hanya butuh lima menit
Untuk mengemas kisah kita, dan meninggalkanku bersamanya —
Meninggalkanku memegang cinta ini sendirian di lorong.

Aku rasa aku pernah menonton film ini sebelumnya,
Dan aku tak menyukai akhirnya.
Kau bukan lagi “tanah airku”,
Lalu, apa yang sebenarnya masih kupertahankan sekarang?
Dulu, kau adalah “kotaku”,
Dan kini aku di pengasingan — melihatmu pergi.
Aku rasa aku pernah menonton film ini sebelumnya.

Aku bisa melihatmu menatap, sayang,
Seolah dia hanya pemeran penggantimu,
Seolah kau akan berdarah-darah membelaku dulu.

Kesempatan kedua, ketiga, bahkan keseratus,
Kita seimbang di atas ranting yang hampir patah.
Tatapan matamu menambah luka pada luka.

Aku rasa aku pernah menonton film ini sebelumnya,
Dan aku tak menyukai akhirnya.
Aku bukan masalahmu lagi,
Lalu siapa yang kini tersinggung oleh kehadiranku?
Dulu, kau adalah mahkotaku,
Dan kini aku di pengasingan — melihatmu pergi.
Aku rasa aku pernah menonton film ini sebelumnya,
Jadi kali ini aku pergi lewat pintu samping.

Maka melangkahlah keluar,
Tak ada air mata yang bisa kuluruhkan lagi untukmu.
Selama ini,
Kita selalu berjalan di garis yang begitu tipis.
Kau bahkan tak pernah mendengarkanku (kau tak pernah mendengarkanku),
Kau tak pernah memberi tanda peringatan (aku sudah memberi begitu banyak tanda).

Selama ini,
Aku tak pernah belajar membaca pikiranmu (dan kau pun tak membaca pikiranku),
Aku tak bisa memperbaiki keadaan (kau pun tak berusaha memperbaikinya),
Karena kau tak pernah memberi tanda peringatan (aku sudah memberi banyak tanda),
Begitu banyak tanda… dan kau tak melihat satupun.

Aku rasa aku pernah menonton film ini sebelumnya,
Dan aku tak menyukai akhirnya.
Kau bukan lagi “tanah airku”,
Lalu, apa yang kupertahankan sekarang?
Dulu, kau adalah “kotaku”,
Dan kini aku di pengasingan — melihatmu pergi.
Aku rasa aku pernah menonton film ini sebelumnya,
Jadi aku melangkah keluar lewat pintu samping.

Maka melangkahlah keluar,
Tak ada air mata yang bisa kuluruhkan lagi untukmu.
Selama ini,
Kita selalu berjalan di garis yang begitu tipis.
Kau bahkan tak pernah mendengarkanku (tak pernah mendengarkanku),
Kau tak pernah memberi tanda peringatan (aku sudah memberi begitu banyak tanda).

Selama ini,
Aku tak pernah belajar membaca pikiranmu,
Aku tak bisa membalikkan keadaan,
Karena kau tak pernah memberi tanda peringatan.

Selama ini — (begitu banyak tanda)
Aku tak pernah belajar membaca pikiranmu (begitu banyak tanda),
Aku tak bisa memperbaiki keadaan (aku tak bisa memperbaikinya),
Karena kau tak pernah memberi tanda peringatan (kau tak pernah memberi tanda).
Kau tak pernah memberi tanda.
Ah, ah…

Share:

Total Pageviews

Histats

Tags

Lirik (132) Lokal (68) Jepang (45) OST. Anime (34) Terjemahan / Translate (33) Barat (14) OST. Film (13) Korea (4) OST. Series/Drama (3) Thread (3) Latin (1)

Blog Archive

New Post

Raisa - Bye-Bye | Lirik & Terjemahan

Raisa - Bye-Bye | Lyrics Hey Girl You know you're beautiful Where is the pretty smile that You've been hiding far too long...

Search