Aku bertemu dengannya di hari yang biasa—tidak ada musik romantis, tidak ada kebetulan dramatis seperti di film. Hanya sebuah perbincangan ringan di ruang baca, tentang buku yang sama-sama kami ambil. Dia menatap halaman buku itu lama, lalu berkata, “Lucu ya, kadang kata-kata bisa lebih hidup dari manusia.”
Aku tertawa kecil. “Mungkin karena manusia suka berbohong, tapi kata-kata… kalau sudah ditulis, tidak bisa mundur.”
Itu awalnya. Biasa saja. Tapi entah kenapa, sejak hari itu, suaranya tinggal di kepalaku. Ada ketenangan yang aneh setiap kali dia bicara, seolah kata-katanya punya sayap kecil yang mengelus bagian dalam dadaku yang lama tertidur.
Aku tak pernah berpikir ini cinta. Tidak seperti yang sering ditulis orang—tidak ada jantung berdebar berlebihan, tidak ada rencana memiliki, tidak ada janji manis. Yang ada hanya… keinginan sederhana: ingin berada di dekatnya.
Dia punya cara pandang yang berbeda terhadap dunia. Ketika orang lain melihat hujan sebagai gangguan, dia melihatnya sebagai kesempatan untuk diam dan mendengar. Ketika orang lain mengeluh soal hidup yang berat, dia berkata, “Mungkin hidup memang tidak harus ringan, yang penting kita bisa tetap berjalan.”
Aku terpikat bukan pada wajahnya, tapi pada tutur katanya. Aku tersihir bukan oleh senyumannya, tapi oleh caranya melihat hidup. Aku terkagum pada pandangannya yang jernih—bukan ke arahku, tapi ke arah dunia yang ia cintai.
Ada ruang di hatiku yang dulu kupikir sudah tertutup, tapi entah bagaimana, dia menemukannya. Bukan untuk dimasuki dengan cinta yang berisik, tapi untuk disinari dengan ketulusan yang tenang.
Aku tidak ingin memilikinya. Aku hanya ingin berada di dekatnya, cukup dekat untuk mendengar napasnya di sela kalimat, cukup dekat untuk tahu apa yang membuatnya tersenyum.
Dan setiap kali dia berbicara, aku merasa… ingin jadi versi terbaik dari diriku sendiri. Itu aneh, ya? Bagaimana seseorang bisa menginspirasi tanpa pernah mencoba?
Katanya cinta punya banyak bentuk. Mungkin ini salah satunya—yang tidak meminta, tidak menuntut, hanya merasa cukup dengan keberadaan.
Aku tahu, aku tidak jatuh cinta padanya. Aku hanya jatuh hati. Dan bagiku, itu lebih dalam dari sekadar cinta.
Lagu ini ditulis oleh Raisa Andriana / Rif'at S Fachir.
Raisa - Jatuh Hati (Lirik)
Ada ruang hatiku yang kautemukan
Sempat aku lupakan kini kausentuh
Aku bukan jatuh cinta
Namun aku jatuh hati
Ku terpikat pada tuturmu
Aku tersihir jiwamu
Terkagum pada pandangmu
Caramu melihat dunia
Kuharap kautahu bahwa ku
Terinspirasi hatimu
Ku tak harus memilikimu
Tapi bolehkah ku s'lalu di dekatmu?
Ada ruang hatiku kini kausentuh
Aku bukan jatuh cinta
Namun aku jatuh hati
Ku terpikat pada tuturmu
Aku tersihir jiwamu
Terkagum pada pandangmu
Caramu melihat dunia
Kuharap kautahu bahwa ku
Terinspirasi hatimu
Ku tak harus memilikimu
Tapi bolehkah ku s'lalu di dekatmu?
Katanya cinta
Memang banyak bentuknya
Kutahu pasti
Sungguh aku jatuh hati
Ku terpikat pada tuturmu
Aku tersihir jiwamu
Terkagum pada pandangmu
Caramu melihat dunia
Kuharap kautahu bahwa ku
Terinspirasi hatimu
Ku tak harus memilikimu
Tapi bolehkah ku s'lalu di dekatmu?
Tapi bolehkah ku s'lalu di dekatmu?







0 komentar:
Post a Comment