Senja baru saja jatuh, menumpahkan jingga di wajahnya. Di bawah langit yang nyaris kehilangan cahayanya, kami duduk berdua—diam, tapi sarat dengan kata-kata yang tak pernah berani terucap.
Dulu, di antara tawa dan tangis, kami pernah percaya bahwa cinta selalu suci. Kami saling menguatkan, saling menenangkan, dan tanpa sadar menjerumuskan diri dalam sesuatu yang lebih dalam dari sekadar rasa sayang.
Aku masih ingat bagaimana ia menatapku sore itu—lembut, tapi penuh ragu. “Kalau saja dunia bisa sedikit lebih adil,” katanya pelan, suaranya hampir tenggelam oleh desir angin. Aku tak menjawab. Hanya menatap tanah, takut menatap matanya yang jujur itu, karena di sanalah aku temukan dosa yang kian tumbuh subur.
Kami tahu ini salah. Tapi kami juga tahu, rasa tak bisa begitu saja dihapus dengan logika. Cinta datang seperti racun yang manis, dan kami berdua sudah terlalu lama meneguknya.
Setiap kali ia berbisikkan kata cinta, jantungku berdetak terlalu keras hingga terasa menyakitkan. Ia menanamkan rasa yang seharusnya tak tumbuh di antara kami—tapi nyatanya, di situlah kami berakar.
Kami saling berjanji dalam diam. Bahwa meski dunia memandang hina, kami akan tetap seirama. Bahwa meski hati dipenuhi luka, kami akan tetap saling menjaga dalam rahasia.
Namun waktu tak bisa diajak berdamai. Rasa yang dulu hangat mulai layu. Ia sering termenung lama, memandangi langit seperti mencari sesuatu yang hilang. Aku tahu—perlahan, dunia nyata mulai memanggilnya pulang.
Di malam terakhir kami bersama, ia menggenggam tanganku erat. “Mungkin cinta ini tak akan pernah diterima siapa pun,” katanya dengan mata basah, “tapi jangan pernah menyesali rasanya.”
Aku hanya mengangguk. Tak ada yang bisa dikatakan. Cinta ini mungkin salah, tapi terlalu benar rasanya untuk disebut penyesalan.
Kini, setiap kali aku sendiri, aku masih bisa mendengar bisikannya—kata cinta yang dulu mengikat kami dalam dosa, namun juga pernah membuat kami hidup sepenuhnya. Mungkin kami terikat oleh rasa hina, tapi di dalamnya, ada cinta paling murni yang pernah kami punya.
Lagu ini ditulis oleh Eross Candra.
Sheila On 7 - Kita (Lirik)
Di saat kita bersama
Di waktu kita tertawa, menangis, merenung
Oleh cinta
Kau coba hapuskan rasa
Rasa di mana kau melayang jauh dari jiwaku
Juga mimpiku
Biarlah, biarlah
Hariku dan harimu
Terbelenggu satu
Oleh ucapan manismu
Dan kau bisikkan kata cinta
Kau t'lah percikkan rasa sayang
Pastikan kita seirama
Walau terikat rasa hina
Sekilas kau tampak layu
Jika kau rindukan gelak tawa yang warnai
Lembar jalan kita
Reguk dan teguklah
Mimpiku dan mimpimu
Terbelenggu satu
Oleh ucapan janjimu
Dan kau bisikkan kata cinta
Kau t'lah percikkan rasa sayang
Pastikan kita seirama
Walau terikat rasa hina
Dan kau bisikkan kata cinta
Kau t'lah percikkan rasa sayang
Pastikan kita seirama
Walau terikat rasa hina
Dan kau bisikkan kata cinta
Kau t'lah percikkan rasa sayang
Akankah kita seirama
Saat terikat rasa hina?







0 komentar:
Post a Comment