Mari berdendang & bernyanyi !

  • Musik Barat

    Musik pertama kali muncul dimana sih?

  • Musik Lokal

    Yang lokal itu lebih asik, lebih rame, lebih seru.

  • Musik Jepang

    Yui? Tokyo adalah salah satu lagu yang sangat ekspresif.

  • OST. Film

    Saya rekomendasikan Anda untuk melihat film Flying Colours.

  • OST. Anime

    Lisa dengan lagunya yang berjudul Ichiban no Takaramono tak kalah ekspresifnya dengan Tokyo milik Yui.

____

11/30/2025

Navicula - Ingin Kau Datang | Lirik

Navicula - Ingin Kau Datang | Lirik

Malam selalu punya cara sendiri untuk membuat seseorang merasa paling sendirian di dunia. Begitu juga malam itu—angin berhembus perlahan, menyingkap dingin yang merayap masuk ke dalam kamar sempit milik Ardan. Ia duduk di tepi ranjang, menatap langit-langit seakan di sana ada jawaban.

Di tengah rasa sepi yang menekan dada, bayangan tentang perempuan yang pernah ia sayangi tiba-tiba muncul lagi. Wajahnya, tawanya, caranya memanggil nama Ardan dengan nada lembut—semua menyerbu tanpa aba-aba.

"Oh, kau kurindu… Aku rindu, sayang," gumamnya lirih, seperti berharap rindu itu bisa terbang dan menemui pemiliknya.

Sudah lama perempuan itu pergi tanpa jejak. Tidak ada pesan, tidak ada alasan yang jelas. Namun, anehnya, kepergiannya tidak pernah benar-benar membuat kehangatannya hilang. Setiap malam, Ardan merasa seolah tubuhnya masih memeluknya. Seakan ranjang itu masih menyimpan sisa-sisa kebersamaan mereka.

Ia menarik napas panjang, berat.

"Walau kau tak di sini… tapi rasamu masih menetap."

Terkadang, rindu itu menjerat seperti tangan tak terlihat. Malam itu, rasanya bahkan lebih kuat—seperti menekan jantungnya perlahan, hingga hampir sakit. Ardan meremas ujung selimut.

"Rasa sepi seperti membunuhku… entah nanti atau hari ini, tolong… datanglah."

Kenangan menyeruak: pagi-pagi yang selalu mereka sambut bersama. Perempuan itu selalu bangun lebih dulu, lalu berbaring di dadanya sambil mendengarkan detak jantungnya. Katanya, itu suara paling menenangkan di dunia.

Ardan tersenyum getir. Hal-hal kecil yang dulu terasa biasa, kini menjelma seperti mimpi indah yang jauh.

Ia menutup mata, membiarkan memori itu kembali mengalir. Mereka pernah berbahagia, meski sesaat. Mereka pernah saling menggenggam, meski akhirnya lepas.

Tapi mengapa hatinya masih terikat?

"Dimana kau sekarang?" Ardan bertanya pada kegelapan. "Ku ingin kau ada… entah di bumi, ataukah di angkasa. Aku tak peduli."

Ia bangkit, melangkah ke jendela. Kota kecil itu sudah tertidur. Lampu-lampu jalan meredup, menyisakan cahaya kekuningan yang temaram. Langit pekat, tak ada bintang. Tapi Ardan tetap memandangnya seolah dari sanalah seseorang yang ia cari akan muncul.

Hening.

Ardan menutup mata lagi.

"Ku tak kuasa menahan rindu lama… tolong, datanglah. Sekali saja. Tunjukkan kalau kau masih ada."

Namun tak ada jawaban. Hanya angin malam yang lewat dan menggerakkan tirai.

Tetapi, meski tak datang, meski tak ada kabar—Ardan tetap berdiri di sana. Menunggu. Karena beberapa rindu memang tidak bisa mati, hanya bisa ditanggung. Dan beberapa cinta tidak pernah benar-benar hilang, hanya berpindah menjadi doa yang terus menggantung di udara.

Sampai kapan?

Ardan sendiri tak tahu.

Yang ia tahu hanya satu: Ia ingin perempuan itu datang.

Ingin… meski mungkin takkan pernah.

Navicula - Ingin Kau Datang | Lirik

Sendiri sepi di tengah malam
Membayang dikau di masa silam
Oh, kau kurindu
Aku rindu, sayang

Walau kau tak di sini
Namun, spertinya masih kurasa
Hangat tubuhmu di ranjangku
Hangat senyummu membelai jiwaku
Oh, kau kurindu
Aku rindu

Ku tak mampu, menahan rasa ini
Rasa sepi seperti membunuhku
Entah nanti, ataukah hari ini
Lama kunanti, kuingin kau datang

Masih kuingat hari-hari
Saat pagi menyambut mentari
Kita terjaga, bersama
Saat kepalamu di dadaku
Dan kau hitung detak jantungku
Oh, kau kurindu
Aku rindu

Ku tak kuasa, menahan rindu lama
Dimana kau, kuingin kau ada
Entah di bumi, ataukah di angkasa
Ku tak peduli, kuingin kau datang

"..."

Ku tak kuasa, menahan rindu lama
Dimana kau, kuingin kau ada
Entah di bumi, ataukah di angkasa
Ku tak peduli, kuingin kau datang
Ingin kau datang
Ingin kau datang

Share:

11/29/2025

Raisa Belanja di Pasar Santa: Cerita tentang Masakan, Fresh Grocery, dan Sisi Ambivert Seorang Penyanyi

Raisa Belanja di Pasar Santa: Cerita tentang Masakan, Fresh Grocery, dan Sisi Ambivert Seorang Penyanyi

Ketika banyak selebriti memilih supermarket modern, Raisa justru terlihat nyaman berjalan santai di Pasar Santa. Dalam video yang direkam bersama USS Feed, Raisa mengajak penonton mengikuti kegiatannya berbelanja bahan masakan sambil ngobrol ringan dengan para pedagang. Momen ini bukan hanya soal belanja—tetapi juga memperlihatkan sisi hangat, sederhana, dan sangat manusiawi dari seorang diva Indonesia.

Masak Jadi Self-Care: “Lemak Is Life”

Sejak awal video, Raisa mengaku sedang gemar memasak dan memilih menu sop daging untuk dinner kali ini. Ia bercerita bahwa dirinya tengah kecanduan memakai slow cooker—alat yang dianggap sangat praktis untuk membuat daging empuk tanpa ribet. “Aku tuh tinggal cemplung-cemplung aja malam, tidur, bangun-bangun udah empuk banget.”

Baginya, memasak bukan sekadar aktivitas rumah tangga, tetapi juga bentuk self-care dan momen refreshing.

Tips Belanja Fresh ala Raisa dan Pedagang Pasar

Ketika ditanya tips memilih bahan segar, uniknya Raisa malah melempar pertanyaan ke pedagang. Si bapak dengan ramah menjawab bahwa sayuran segar itu mudah terlihat dari teksturnya yang masih keras dan warnanya cerah.

Beberapa poin yang Raisa highlight:

Belanja pagi: karena bahan-bahan masih sangat fresh.
Belanja siang: cocok kalau mau suasana sepi dan santai.
Raisa sendiri lebih suka belanja berdasarkan inspirasi masakan hari itu, bukan belanja bulanan sekaligus.

Boros Bawang & Jatuh Hati pada Kecombrang

Ada momen kocak ketika Raisa mengaku boros bawang: “Bawang tuh di rumah aku nggak pernah bertahan lama. Boros bawang soalnya.”

Kemudian ia menemukan kecombrang, salah satu favoritnya. Ia langsung cerita bahwa ia biasa memasak nasi goreng kecombrang—menu yang terdengar sederhana tetapi aromanya sangat khas.

Tak berhenti di situ, Raisa juga tergoda membeli oncom, memicu komentar lucu: “Darah Sundaku meraung lihat oncom!”

Momen seperti ini membuat videonya terasa sangat natural dan relatable bagi penonton.

Sisi Ambivert Raisa

Dalam perjalanan belanja, sang pewawancara menyinggung soal kepribadian Raisa. Ia mengaku dirinya adalah seorang ambivert. “Aku bukan introvert banget, bukan extrovert banget. Tengah-tengah.”

Walau aslinya lebih introvert, Raisa bilang pekerjaannya selama bertahun-tahun membuatnya harus belajar tampil lebih ekstrovert. Kini ia merasa sudah menemukan keseimbangan.

Dibentuk Dapur Sejak Kecil

Raisa juga bercerita bahwa kemampuan memasaknya terbentuk sejak kecil. Ibunya dulu memiliki usaha katering, sehingga ia akrab dengan dunia dapur sejak dini.

Yang menarik, Raisa mengaku tidak suka masakan yang membutuhkan takaran presisi seperti kue. Ia lebih mengandalkan feeling dalam memasak: “Aku nggak suka terlalu precise. Senangnya cobain, kurang apa, tambah apa.”

Hal ini pula yang membuatnya jago merecreate rasa hanya dari ingatan lidah.

Belanja Sekaligus Nostalgia

Sembari berjalan, Raisa berbincang dengan pedagang tentang kondisi pasar, tantangan UMKM, hingga bagaimana keramaian bisa dipengaruhi demo atau situasi tertentu. Suasana video terasa akrab, seperti seseorang yang sudah lama menjadi bagian dari keseharian pasar tersebut.

Total belanjaannya cukup banyak—dari bawang, wortel, kecombrang, hingga daging untuk sop. Tetapi Raisa mengaku tidak pernah membatasi budget khusus untuk groceries. “Menurutku makan itu ya… kita cari yang enak, fresh, dan lagi pengin. Selama ada rezekinya, ya sudah.”

Sebuah kalimat sederhana yang menunjukkan rasa syukur dan kesadaran akan kualitas makanan yang ia konsumsi.

Obrolan Musik: Rekomendasi Lagu Favorit

Menjelang akhir video, pembicaraan bergeser ke musik. Raisa menyebut satu lagu favorit di album terbarunya, terutama yang sangat personal baginya: “Bila” (track keempat).

Ia juga mengungkap bahwa lagu “Jatuh Hati” adalah momen penting dalam hidupnya sebagai musisi. “Gara-gara ‘Jatuh Hati’, aku PD bilang diriku songwriter.”

Itu adalah titik ketika ia merasa tulisannya benar-benar matang dan punya karakter kuat.

Video belanja Raisa di Pasar Santa bukan sekadar konten kuliner. Di dalamnya ada cerita tentang keseharian, perjalanan menjadi ibu, proses kreatif, hingga bagaimana ia menyeimbangkan hidup sebagai publik figur dan pribadi yang masih menikmati hal-hal sederhana.

Raisa menunjukkan bahwa di balik panggung besar dan sorotan kamera, ia tetaplah seseorang yang senang mengobrol dengan pedagang, memilih sayuran sendiri, dan menikmati aroma kecombrang di pasar tradisional.


*Artikel ini bersumber dari: USS Feed - youtu.be, yang diuploud tanggal 18 Oktober 2025 dan penyusun akses pada tanggal 28 November 2025.

Share:

11/28/2025

Daftar Lengkap Pemenang AMI Awards 2025: Musik Indonesia Semakin Berwarna

Daftar Lengkap Pemenang AMI Awards 2025: Musik Indonesia Semakin Berwarna

Anugerah Musik Indonesia (AMI Awards) 2025 kembali digelar sebagai ajang apresiasi terbesar bagi insan musik Tanah Air. Tahun ini AMI menunjukkan keberagaman dan kekuatan industri musik Indonesia yang terus berkembang pesat. Mulai dari pop, rock, jazz, hingga kategori kontemporer, para musisi dari berbagai generasi tampil mendominasi.

Acara tahun ini menghadirkan banyak kejutan, terutama dari dominasi karya-karya baru yang viral dan relevan di kalangan pendengar muda. Berikut adalah daftar para pemenang AMI Awards 2025 yang berhasil membawa pulang penghargaan bergengsi.

Penghargaan Utama

1. Karya Produksi Terbaik Terbaik

“Garam & Madu (Sakit Dadaku)” – Tenxi, Jemsii & Naykilla

Lagu viral yang sempat mendominasi platform musik ini sukses menjadi karya terbaik tahun ini.

2. Album Terbaik Terbaik

“Doves, ’25 on Blank Canvas” – Hindia

Baskara Putra kembali menegaskan kapasitasnya sebagai salah satu musisi paling konsisten di Indonesia.

3. Pendatang Baru Terbaik Terbaik

Prince Poetiray – “Selalu Ada di Nadimu”

Pendatang baru yang melejit lewat soundtrack film animasi Jumbo.

Kategori Pop

Artis Solo Wanita Pop Terbaik: Raisa – “Terserah”
Artis Solo Pria Pop Terbaik: Rony Parulian – “Pesona Sederhana”
Duo/Grup Pop Terbaik: The Lantis – “Bunga Maaf”
Pencipta Lagu Pop Terbaik: Siprianus Bhuka – “Tabola Bale”
Penata Musik Pop Terbaik: S/EEK – “Berharap Pada Timur” (Salma Salsabil)
Album Pop Terbaik: “Berharap Pada Timur” – Salma Salsabil

Kategori pop didominasi oleh nama-nama besar seperti Raisa dan Salma Salsabil, sementara The Lantis membawa angin segar untuk skena pop grup.

Kategori Rock

Artis/Grup Rock Terbaik: For Revenge – “Penyangkalan”
Album Rock Terbaik: “.Feast – Membangun & Menghancurkan”

Dua band ini menunjukkan bahwa musik rock Indonesia tetap punya tempat kuat di hati pendengar.

Kategori Jazz & Jazz Alternatif

Artis Jazz Terbaik: Indra Lesmana – “A Time For Everything”
Artis Jazz Alternatif Terbaik: Littlefingers – “Four Flights to Fibs”
Album Jazz/Jazz Alternatif Terbaik: NonaRia – “Dengarkanlah Radio”

Nama-nama legendaris seperti Indra Lesmana kembali bersinar, sementara jazz alternatif terus menunjukkan progresivitasnya.

Karya Produksi & Eksperimental

Karya Produksi Instrumentalia Terbaik: Erwin Gutawa – “Swarnadwipa”
Karya Produksi Global Music Terbaik: Ammir Gita & Suku Cahaya Ensemble, Sujiwo Tejo, dll. – “Semar”
Karya Produksi Re-Aransemen Terbaik: Yovie Widianto & Adrian Kitut – “Terlalu Cinta”
Karya Produksi Blues Terbaik: Arya Novanda & Gugun Blues Shelter – “Soulless Blues”
Karya Produksi Folk/Country/Ballad Terbaik: Feby Putri – “Tayangan Oleh Kepala”
Karya Produksi Kontemporer Terbaik: KUNTARI – “Anak Kecil”

Kategori ini menampilkan ragam eksplorasi musikal dari tradisional, kontemporer, hingga blues.

Karya Spiritual & Religius

Lagu Spiritual Islami Terbaik: Yura Yunita – “Tanda”
Lagu Spiritual Nasrani Terbaik: LOJ Worship – “Sukacita Live”

Kategori Penunjang Produksi

Produser Rekaman Terbaik: Jemsii – “Garam & Madu (Sakit Dadaku)”
Desain Grafis Album Terbaik: Ipeh Nur, Enka Komariah, Aji Styawan – “Hujan Orang Mati – Majelis Lidah Berduri”
Tim Produksi Suara Terbaik: Jemsii – “Garam & Madu (Sakit Dadaku)”
Video Musik Terbaik: Yogi Kusuma – “everything u are” (Hindia)
Aransemen Vokal Terbaik: Dian HP & Gabriel Harvianto – “MAR Medley Acapella”

Jemsii menjadi salah satu pemenang paling bersinar tahun ini dalam kategori teknis.

Penghargaan Khusus (Lifetime Achievement)

Jopie Item – Performer
Jan Djuhana – Producer
James F. Sundah – Composer

Tiga tokoh ini mendapat penghargaan atas dedikasi sepanjang hayat untuk musik Indonesia.

AMI Awards 2025 membuktikan bahwa ekosistem musik Indonesia kaya, dinamis, dan terus bertumbuh. Dominasi musisi muda seperti Hindia, Prince Poetiray, hingga Salma Salsabil menunjukkan regenerasi berjalan sangat baik. Pada saat yang sama, musisi senior seperti Indra Lesmana dan Erwin Gutawa tetap menunjukkan kualitas tinggi yang tak tergantikan.

Tahun 2025 menjadi titik penting yang menunjukkan bahwa musik Indonesia bergerak ke arah yang semakin kreatif dan inklusif.

Share:

11/27/2025

(OST. Our Beloved Summer) Kim Na Young - There For You | Lirik & Terjemahan

(OST. Our Beloved Summer) Kim Na Young - There For You

Senja sudah lama tenggelam ketika aku tersadar bahwa kota perlahan tenggelam dalam gelap. Lampu-lampu jalan mulai menyala, menorehkan garis cahaya di trotoar yang dulu sering kita lewati bersama.

Entah kenapa malam itu, langkahku membawaku ke tempat yang pernah menjadi saksi betapa dekatnya kita—dan betapa mudahnya kita saling melukai.

Di sana, di bawah langit yang tampak lebih dingin dari biasanya, kenangan tentangmu muncul begitu saja. Padahal selama ini sudah kusimpan rapat-rapat, seolah menaruhnya di laci terkunci tanpa kunci cadangan.

Namun ternyata, satu hembusan malam saja cukup untuk membuat semuanya kembali keluar.

Aku mengingat caramu tersenyum, caramu menatap, caramu marah, caramu diam. Bagaimana waktu dulu seolah berjalan lebih pelan ketika kita berjalan berdampingan. Dan bagaimana waktu itu kemudian berubah menjadi jarak yang sulit dijembatani.

Aku bahkan tak sadar ketika kau tiba-tiba benar-benar muncul di hadapanku—di tempat yang sama, di waktu yang sama, seolah takdir ingin kembali mempertemukan dua hati yang belum selesai bicara.

Wajahmu… masih sama seperti terakhir kali kulihat. Tapi juga terasa asing. Ada perubahan halus di sorot matamu, ada sesuatu yang tak lagi bisa kutebak.

“Apa kabar?” tanyamu singkat.

Aku ingin mengatakan banyak hal.

Bahwa aku masih mengingat semuanya.
Bahwa aku masih menyimpan namamu di tempat yang tak bisa kuganti.
Bahwa aku pernah mencoba membencimu, tapi selalu gagal.
Bahwa aku menyesal setiap kata kasar yang pernah kita lontarkan.
Bahwa aku masih… belum benar-benar bisa melepaskanmu.

Tapi bibirku hanya berkata, “Baik.”

Perasaan sesak itu bertambah ketika tatapanmu menyelam ke dalam mataku. Aku buru-buru memalingkan kepala, takut kau melihat betapa kacaunya hatiku sebenarnya.

Betapa aku belum selesai denganmu.

Kita berdiri canggung di bawah lampu jalan. Dan pada momen itu, semua kenangan yang dulu ingin kulupakan seperti menepuk pundakku, satu per satu.

Saat kita bertengkar begitu hebat hingga keduanya menyerah.
Saat aku membalikkan badan dan pergi, padahal hati ingin tetap tinggal.
Saat aku menjauh hanya karena takut terlihat lemah di depanmu.
Saat aku menunggu… tapi tak pernah jujur tentang itu.

“Kenapa dulu kamu selalu bersikap keras begitu?” tanyamu tiba-tiba.

Pertanyaan sederhana—tapi cukup untuk merobohkan tembokku.

“Karena aku takut,” jawabku lirih.
Takut kehilanganmu.
Takut kamu tahu betapa pentingnya kamu.
Takut terlihat rentan.

Kau menatapku lama, lalu menghela napas yang terdengar seperti kenangan yang ikut diturunkan.

“Aku juga menunggu. Lama,” bisikmu.

Ada jeda. Jeda panjang yang terasa seperti seluruh waktu dipadatkan menjadi satu tarikan napas.

Malam semakin larut, tapi tak ada dari kita yang melangkah pergi.
Mungkin karena akhirnya kita berani mengakui bahwa masing-masing masih menyimpan cerita.
Atau mungkin… karena beberapa perasaan memang tidak pernah benar-benar mati.

Namun saat aku hendak bicara lebih jauh—tentang apa yang tersisa di hatiku, tentang hal-hal yang belum selesai, tentang kamu yang masih ada—suaramu memecah malam: “Aku harus pergi.”

Aku mengangguk. Terlalu pelan. Terlalu sakit.
“Kapan-kapan kita lanjutkan,” katamu, sambil tersenyum samar.

Kapan-kapan.
Sebuah harapan yang menggantung tanpa janji.

Kau berjalan menjauh, dan aku hanya bisa menatap punggungmu—yang entah kenapa terasa lebih jauh dari jarak sebenarnya.

Aku ingin memanggilmu.
Aku ingin mengatakan semuanya.
Aku ingin jujur seperti dulu tak pernah berani.

Tapi seperti biasa…
Aku hanya diam.

Dan ketika kau benar-benar hilang di tikungan jalan, aku akhirnya mengakui dalam hati:
Aku masih belum bisa melepaskanmu.
Walau sudah berkali-kali mencoba.

Dan malam itu, aku pulang dengan langkah pelan, membawa kesadaran bahwa beberapa cinta tidak hilang—hanya berdiam di tempat yang tak pernah benar-benar bisa ditutup.

Kim Na Young - There For You

어느새 어둠이 내린 거리에
깊이 숨겨 두었던 너의 기억
나도 모르게 꺼내어 놓았어

우리 같은 시간에 함께했던
애써 담아 두었던 얘기들이
내게 걸어와 손을 흔들어

사실 또 아무렇지 않은 척해봐도
내 어려운 맘들을 들킬까 봐
흔들린 눈빛을 애써 감추며
널 마주하고

또 난 늘 아무 말도 전하지 못하고
왜 그리 모진 모습들로 너를
그렇게 보내고
그렇게 아파하며 너를 생각해

여전히 그대로인 너의 모습
하지만 많이 낯선 너의 표정
가슴 깊이 머금은 수많은 얘기들

두손 두발 다 들 만큼 싸웠던 때도
등을 지며 너에게 돌아서던 때도
기겁하며 너에게 도망치던 때도
기다렸어 뒤돌아서서

사실 또 아무렇지 않은 척해봐도
내 어려운 맘들을 들킬까 봐
흔들린 눈빛을 애써 감추며
널 마주하고

또 난 늘 아무 말도 전하지 못하고
왜 그리 모진 모습들로 너를
그렇게 보내고
그렇게 아파하며 너를

사실 난 아무렇지 않은척했지만
내 맘속에 남겨진 얘기들을
자꾸만 그려봐
아직도 못 보내는 너를 이렇게

Kim Na Young - There For You (Romanized)

Eoneusae eodumi naerin georie
Gipi sumgyeo du-eossdeon neoui gieok
Nado moreuge kkeonae-eo noasseo

Uri gateun sigane hamkkehaessdeon
Aesseo dama du-eossdeon yaegideuri
Na-ege georeowa soneul heundeureo

Sasil tto amureochi aneun cheok haebwado
Nae eoryeoun mamdeureul deulkilkka bwa
Heundeullin nunbicheul aesseo gamchumyeo
Neol majujuago

Tto nan neul amu maldo jeonhaji mothago
Wae geuri mojin moseupdeullo neoreul
Geureoke bonaego
Geureoke apahamyeo neoreul saenggakhae

Yeojeonhi geudaero-in neoui moseup
Hajiman manhi natseon neoui pyojeong
Gaseum gipi meogeumeun sumaneun yaegideul

Dusan dubal da deul mankeum ssawossdeon ttaedo
Deungeul jimyeo neoege doraseodeon ttaedo
Gigeophamyeo neoege domangchideon ttaedo
Gidaryeosseo dwidorsaseoseo

Sasil tto amureochi aneun cheok haebwado
Nae eoryeoun mamdeureul deulkilkka bwa
Heundeullin nunbicheul aesseo gamchumyeo
Neol majujuago

Tto nan neul amu maldo jeonhaji mothago
Wae geuri mojin moseupdeullo neoreul
Geureoke bonaego
Geureoke apahamyeo neoreul

Sasil nan amureochi aneun cheokhaessjiman
Nae mamsoge namgyeojin yaegideureul
Jakkuman geuryeobwa
Ajikdo mot bonaeneun neoreul ireoke

Kim Na Young - There For You (Romanized)

Tanpa kusadari, malam sudah turun di jalanan,
dan kenangan tentangmu—yang dulu kusimpan paling dalam—
tiba-tiba muncul lagi tanpa aku minta.

Cerita-cerita yang dulu pernah kita lalui
yang sudah berusaha kupendam sekian lama,
seakan datang menghampiriku sambil melambaikan tangan.

Walau aku selalu mencoba bersikap seolah semuanya baik-baik saja,
aku takut kamu melihat betapa beratnya hatiku,
hingga aku harus menyembunyikan mata yang terus bergetar
saat kembali berhadapan denganmu.

Seperti biasa, aku tetap tak bisa mengatakan apa pun padamu.
Kenapa dulu aku harus bersikap begitu keras padamu?
Kenapa aku melepaskanmu seperti itu,
lalu justru terus tersiksa karena memikirkanmu?

Dirimu masih terlihat sama seperti dulu,
tapi ada raut asing di wajahmu yang membuatku terasa jauh.
Ada begitu banyak cerita yang kutahan dalam-dalam
yang tak pernah sempat kusampaikan padamu.

Kita pernah bertengkar hebat sampai menyerah tak berdaya,
pernah saling membelakangi dan pergi begitu saja,
pernah aku kabur darimu karena ketakutan akan luka yang kubuat sendiri—
tapi tetap saja, dari belakang, aku menunggumu.

Walau aku terus berakting seolah tak terjadi apa-apa,
aku takut kamu tahu kalau hatiku sebenarnya kacau.
Aku tetap menyembunyikan mata ini
saat kembali menghadapimu.

Dan tetap saja, aku tak bisa mengucapkan sepatah kata pun.
Kenapa dulu aku harus membuatmu pergi
dengan cara yang begitu menyakitkan,
dan justru menyiksa diri dengan memikirkanmu kembali?

Sebenarnya aku hanya pura-pura terlihat baik-baik saja.
Cerita-cerita yang masih tersisa di hatiku
terus saja kupikirkan,
karena sampai sekarang…
aku masih belum bisa benar-benar melepaskanmu.

Share:

11/26/2025

Raisa - Melangkah | Lirik

Raisa - Melangkah | Lirik

Dulu aku pernah membayangkan masa depan yang sederhana namun bahagia: rumah kecil, dua cangkir kopi setiap pagi, dan kamu yang duduk di seberang meja dengan senyum yang selalu kurindukan.

Aku benar-benar percaya kisah cinta kita akan abadi.

Tapi takdir, ternyata, tidak selalu mengikuti keinginan manusia.
Cinta yang kukira akan bertahan selamanya… pelan-pelan memudar.
Sampai akhirnya hilang, tak berbentuk apa-apa.

Awalnya aku tidak mengerti.
Tidak menerima.
Dan tidak ingin berdamai.

Aku bertanya pada diriku sendiri:
Apa aku tidak cukup? Kenapa semua berakhir begini?

Namun, rasa sakit punya cara bekerja yang aneh—ia memaksa manusia untuk tumbuh, meski tidak dengan cara yang nyaman.

Suatu pagi, setelah berminggu-minggu terperangkap dalam sepi, aku keluar rumah tanpa tujuan. Kota masih sepi, embun menempel di kaca-kaca toko, dan matahari baru saja muncul, mengintip dari balik gedung-gedung.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama… aku merasa ditemani.

Cahaya matahari itu hangat sekali, seperti menepuk pundakku sambil berkata: “Hei, kamu nggak sendiri. Dunia masih ada untukmu.”

Aku berhenti melangkah sejenak dan membiarkan sinarnya jatuh ke wajahku.
Anehnya, hatiku yang selama ini gelap terasa sedikit terang.

Saat itulah aku sadar—

Aku tidak kehilangan segalanya.
Aku masih punya hari esok.
Masih punya langkah.
Masih punya diriku sendiri.

Dan itu cukup.

Sejak hari itu, perlahan—tanpa tergesa—aku belajar melupakanmu.
Belajar melepas sesuatu yang tidak lagi ingin menetap.
Belajar berdamai dengan kenyataan bahwa tidak semua cinta harus dimiliki.

Kadang masih ada sepi yang datang tiba-tiba.
Kadang masih ada kenangan yang menyapa tanpa diundang.

Tapi kali ini aku tidak takut.
Aku sudah bisa melangkah tanpa ragu.

Ada dunia luas menunggu.
Ada cahaya pagi yang selalu datang, tanpa pernah terlambat.

Dan aku… tidak menyesal apa pun.

Karena akhirnya aku mengerti:

Sendiri pun, aku bisa menjalani.
Dan kali ini, aku memilih untuk percaya pada langkah-langkahku sendiri.


Raisa - Melangkah | Lirik

Dahulu ku bermimpi
Kisah cinta abadi bersamamu
Ternyata semua berakhir
Tak seperti yang ku harapkan
Baru ku mengerti ku sadari

Reff:
Oh ku tak sendiri
Pancaran sinar mentari
Menemani tiada henti

Oh dan tak ku sesali
Tlah ku lupakan dirimu
Tak mengapa, aku melangkah
Sendiri dapat ku jalani

Ternyata semua berakhir
Tak seperti yang ku harapkan
Baru ku mengerti ku sadari

Back to reff

Pernah ku terhanyut dalam sepi
Namun ku berani melangkah pasti
Tanpa dirimu

Back to reff [2x]

Sendiri dapat ku jalani
Sendiri dapat ku jalani

Share:

11/25/2025

Raisa - Could It Be | Lirik

Raisa - Could It Be | Lirik

Hari itu aku tidak berniat jatuh cinta. Aku hanya datang memenuhi ajakan teman, sekadar nongkrong di sebuah kafe kecil yang tersembunyi di sudut kota. Tempatnya sederhana, lampu kuning remang, bau kopi mengambang di udara, dan musik pop pelan yang mengisi ruang tanpa mengganggu obrolan siapa pun.

Lalu… dia datang.

Entah bagaimana, ketika ia membuka pintu kafe, jantungku seperti memutuskan untuk bekerja lebih keras dari biasanya. Degupnya ribut sekali, sampai aku harus mengalihkan pandangan agar tidak terlihat gugup.

Dia tersenyum pada teman-temannya, lalu duduk tidak jauh dariku.
Dan sejak detik itu—mataku seperti kehilangan kemampuan untuk melihat hal lain.

Seolah ada magnet yang menarik pandanganku ke arahnya.

Aku tidak tahu bagian mana dari dirinya yang paling mencuri perhatianku.
Cara dia mendorong rambut dari wajahnya, atau cara matanya mengecil sedikit saat tertawa.
Ada kehangatan yang sulit dijelaskan. Ada cahaya yang hanya terlihat ketika seseorang muncul di waktu yang tepat.

Setiap gerak kecilnya, setiap tawa ringan dari bibirnya, membuatku… melayang.
Begitu ringan sampai rasanya aku tidak sedang duduk di kursi, melainkan di udara yang lembut, tempat imajinasi dan kenyataan saling berbaur.

Aku bahkan ikut tersenyum pada setiap candaannya—padahal aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan.

Gila.
Ini baru pertama kali aku bertemu dia.
Kenapa bisa seperti ini?

Ketika matanya tak sengaja bertemu dengan mataku, ada jeda beberapa detik yang terasa panjang sekali.
Ia tersenyum, samar namun tulus, seperti mengucapkan salam tanpa kata.

Dan aku, entah karena apa, terdiam.
Tidak bisa berpikir.
Tidak bisa bernapas dengan normal.

Sial.
Apa ini?

Sepulang dari kafe, langkahku terasa lebih ringan dari biasanya. Bahkan lampu jalan yang berkedip pun terlihat lebih indah dari semestinya. Aku memikirkan kembali tentang sorot matanya, tawa kecilnya, dan bagaimana kehadirannya membuat ruang terasa lebih terang.

Di dalam hati, sebuah pertanyaan muncul, menggema pelan namun pasti:

Could it be love?

Mungkinkah ini cinta?
Mungkinkah ini sesuatu yang belum pernah kurasakan sebelumnya?
Mungkinkah… dia akan menjadi seseorang yang tidak sengaja menggetarkan hidupku?

Aku tidak punya jawabannya.
Yang kupunya hanya perasaan hangat yang tumbuh tanpa izin.

Dan malam itu—tanpa sadar—aku tersenyum sendirian, memikirkan seseorang yang baru kukenal, namun entah bagaimana terasa begitu dekat.

Mungkinkah… ini benar-benar cinta?


Raisa - Could It Be | Lirik

Kau datang dan jantungku berdegup kencang
Kau buatku terbang melayang
Tiada ku sangka getaran ini ada
Saat jumpa yang pertama

Mataku tak dapat terlepas darimu
Perhatikan setiap tingkahmu
Tertawa pada setiap candamu
Saat jumpa yang pertama

Could it be love, could it be love
Could it be, could it be, could it be love
Could it be love, could it be love
Could this be something that i never had

Could it be love

Mataku tak dapat terlepas darimu
Perhatikan setiap tingkahmu
Tertawa pada setiap candamu
Saat jumpa yang pertama

Could it be love, could it be love
Could it be, could it be, could it be love
Could it be love, could it be love
Could this be something that i never had

Could it be love, could it be love
Could it be, could it be, could it be love
Could it be love, could it be love
Could this be something that i never had

Oh mungkinkah ini cinta

Could it be love, could it be love
Could it be, could it be, could it be love
Could it be love, could it be love
Could this be something that i never had

Could it be love, could it be love
Could it be, could it be, could it be love
Could it be love, could it be love
Could this be something that i never had

Share:

11/24/2025

Raisa - Apalah (Arti Menunggu) | Lirik

Raisa - Apalah (Arti Menunggu) | Lirik

Aku tak pernah menyangka, menunggu seseorang bisa terasa seperti menahan napas terlalu lama—sampai dada sesak, dan dunia perlahan memudar warnanya. Selama berbulan-bulan, aku bertahan demi cinta yang dulu begitu meyakinkan. Aku mengira kesetiaan adalah kunci, dan waktu akan membawa jawaban. Setiap hari aku menulis pesan yang tak terkirim, menyiapkan kata-kata yang tak pernah sempat kuucapkan, berharap ia akan membalas walau hanya dengan satu kalimat pendek: “Aku kangen juga.”

Tapi hari berganti hari, tak ada apa-apa selain sunyi.

Awalnya aku berusaha maklum.
Lalu aku mulai menunggu.
Setelah itu aku bertahan.
Dan pada akhirnya… aku menggenggam sesuatu yang bahkan sudah hilang: harapan yang membusuk perlahan.

Suatu malam, hujan turun cukup deras. Aku duduk di teras rumah, menatap layar ponsel yang tetap kosong. Bukan karena baterainya habis, tapi karena seseorang yang dulu kupikir tak akan pernah pergi… tak lagi ingin menulis apa pun untukku.

Angin basah menerpa pipiku, tapi anehnya, bagian yang paling dingin justru dadaku.

Pelan-pelan, aku mulai sadar:
Cinta yang kutunggu tak pernah benar-benar datang kembali.
Bukan karena aku tidak cukup, bukan pula karena aku kurang berjuang.
Tapi karena cintanya memang sudah tidak ada sejak lama.

Apa arti menunggu kalau yang kutunggu sudah pergi bahkan sebelum aku sadar?

Aku memejamkan mata, membiarkan bayangannya muncul di benakku. Dulu, dialah segalanya—nama yang pertama muncul saat aku bangun tidur, dan satu-satunya wajah yang ingin kulihat sebelum mata ini tertutup malam.

Dulu.

Hanya dulu.

Kini aku mengerti. Aku menunggu cinta yang tak lagi sama, sementara ia bahkan tak berusaha mencarinya kembali. Aku menahan diri untuk tetap percaya, sedangkan ia bahkan tak mencoba memberi tanda bahwa aku masih penting.

Dan malam itu—di tengah suara hujan yang memecah sepi—ada sesuatu yang berubah dalam diriku.

Bukan karena aku marah.
Bukan karena aku kecewa.
Tapi karena hatiku… akhirnya menerima kenyataan yang sudah lama kutolak.

Aku tidak perlu lagi menunggu seseorang yang tak memilihku.

Ponselku bergetar tiba-tiba.
Bukan namanya.
Hanya notifikasi biasa.
Tapi untuk pertama kalinya, aku tidak merasa kehilangan. Aku tidak lagi berharap itu dia. Tidak lagi menyesali apa pun.

Rasanya seperti membuka jendela setelah sekian lamanya ruangan terkunci. Udara segar masuk pelan-pelan, dan aku bisa bernapas kembali.

Hatiku tidak lagi penuh oleh dirinya.
Tidak lagi penuh oleh penantian.
Yang tersisa kini hanyalah ruang—ruang untuk memulai, ruang untuk sembuh.

Aku berdiri, menatap langit yang mulai mereda hujannya.

Asmara tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berganti tempat.

Dan malam itu, tempat yang dipilihnya adalah… kembali kepadaku.

Untuk pertama kalinya sejak lama, aku tersenyum kecil—tanpa menunggu siapa pun lagi.


Raisa - Apalah (Arti Menunggu) | Lirik

Telah lama aku bertahan
Demi cinta wujudkan sebuah harapan
Namun ku rasa cukup ku menunggu
Semua rasa tlah hilang

Sekarang aku tersadar
Cinta yang ku tunggu tak kunjung datang
Apalah arti aku menunggu
Bila kamu tak cinta lagi

Namun ku rasa cukup ku menunggu
Semua rasa tlah hilang

Sekarang aku tersadar
Cinta yang ku tunggu tak kunjung datang
Apalah arti aku menunggu
Bila kamu tak cinta lagi

Dahulu kaulah segalanya
Dahulu hanya dirimu yang ada di hatiku
Namun sekarang aku mengerti
Tak perlu ku menunggu sebuah cinta yang sama

Sekarang aku tersadar
Cinta yang ku tunggu tak kunjung datang
Apalah arti aku menunggu
Bila kamu tak cinta lagi

Sekarang aku tersadar
Cinta yang ku tunggu tak kunjung datang
Apalah arti aku menunggu
Bila kamu tak cinta lagi

Share:

11/23/2025

Navicula - Zat Hujan Daun (Lirik)

Album Alkemis

Kota Batu Raya pernah dikenal sebagai kota paling teduh di negeri itu. Pepohonan menari di kiri-kanan jalan, akarnya memeluk tanah, dan rantingnya melindungi siapa pun yang berjalan di bawahnya. Orang-orang dari kota lain datang hanya untuk merasakan sejuknya angin yang melewati daun-daun rimbun itu, seakan mengusap wajah mereka dengan kasih.

Tapi itu dulu—kisah lama yang hanya tersisa dalam album foto tua.

Kini, Kota Batu Raya berubah. Langitnya keabu-abuan, panasnya menggigit, dan setiap sudut kota dipenuhi tumpukan gedung menjulang. Asap kendaraan mengebul tanpa henti, dan udara terasa berat di dada. Banyak warga yang mulai lupa seperti apa aroma daun basah sehabis hujan, atau suara angin yang melewati rerumputan.

Namun di tengah kota yang hampa hijau itu, ada seorang gadis bernama Selia. Setiap hari, Selia pergi ke taman tua di ujung jalan—satu-satunya tempat yang masih menyimpan sedikit warna hijau. Di sana berdiri sebuah pohon besar yang tampak lelah, tetapi tetap hidup.

Selia selalu menyapanya, seakan pohon itu adalah temannya sejak lama.

“Hijau kotaku… masih berseri, meski tinggal sedikit,” gumamnya sambil menyentuh kulit pohon yang retak-retak. “Payungi aku lagi ya, dari panas dan abu yang makin gila ini.”

Bagi Selia, pohon bukan sekadar tumbuhan. Ia adalah paru-paru kota, jantung kehidupan, dan saksi bisu cerita manusia.

Karena tanpa pohon, ia tahu… kota ini hanya akan menjadi deretan tiang besi dan bangunan. Dingin. Hampa. Mati.

Suatu hari, Selia terkejut melihat tanda merah di batang pohon itu: AKAN DITEBANG.

Ia memandangi huruf-huruf itu lama sekali. Seakan seseorang menulis vonis kematian untuk sahabatnya sendiri.

“Kenapa harus kamu lagi…?” ucapnya lirih.

Ia duduk di tanah, memeluk lututnya, dan membayangkan sesuatu yang membuat dadanya sesak: Berapa lama sebuah benih tumbuh menjadi pohon? Menghabiskan puluhan tahun memanjat langit, memperluas akarnya, memperkuat batangnya… Dan manusia menebangnya dalam hitungan menit. Seakan semua itu biasa saja.

Pohon hilang sudah menjadi hal biasa. Padahal, hilangnya satu pohon adalah hilangnya satu nyawa kota.

Malamnya, Selia mendapat ide aneh—tapi sekaligus indah.

“Andai… di masa depan… batu nisan kuburan diganti tumbuhan,” gumamnya sambil menatap langit yang tak berbintang. “Kalau aku mati nanti, aku ingin tubuhku jadi makanan bagi pohon yang baru.”

Ia tersenyum kecil. Baginya, hidup yang bermakna adalah hidup yang memberi. Dan kalau bisa memberi oksigen setelah mati… bukankah itu lebih baik?

Keesokan paginya, Selia kembali ke taman tua. Orang-orang mulai berdatangan karena mendengar kabar pohon itu akan ditebang. Tetapi yang mereka lihat adalah Selia berdiri di depan pohon itu—memeluk batangnya.

“Kalian tidak sadar?” serunya pada kerumunan. “Kota kita panas bukan tanpa alasan! Pohon dijadikan korban. Kita membiarkan paru-paru kota kita hilang satu per satu!”

Orang-orang saling memandang. Ada yang tersentuh, ada yang malu, ada pula yang mulai memahami bagaimana napas mereka bergantung pada daun-daun itu.

“Kalian tahu,” lanjut Selia, “zat hijau daun inilah yang mengambil racun dari udara. Mereka bekerja tanpa meminta imbalan, tanpa protes. Kalau mereka hilang… kita yang mati.”

Kalimat itu menyentak banyak orang.

Akhirnya, warga berkumpul. Mereka menandatangani petisi. Mereka berdiri mengelilingi pohon. Mereka melawan keputusan itu bersama-sama.

Dan hari itu, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, manusia memilih berpihak pada alam.

Pohon tua itu diselamatkan. Taman itu diperbaiki. Mereka menanam puluhan pohon baru, di trotoar, di halaman, di pinggir sekolah, atau di mana pun tanah masih bisa memeluk akar.

Kota Batu Raya perlahan berubah warna. Dari abu-abu menjadi hijau kembali.

Dan Selia, yang dulu hanya seorang gadis kecil yang bicara pada pohon… kini menjadi suara bagi seluruh kota.

Karena ia tahu: Jika manusia berhenti mencintai pohon, maka pohon akan berhenti memberi kehidupan.

Dan saat itu terjadi—yang tersisa hanya limbah, wabah, dan penyesalan.


Navicula - Zat Hujan Daun (Lirik)

Ahh.. hijau kotaku
Berseri wajahmu
Payungi diriku
Di panas dan abu

Tanpa pohon bisa kubayangkan
Hanya tiang besi dan bangunan
Zat hijau daun untung kau ada
Ayo ambil racun di udara

Ku.. ingin di kota
Bertambah pohonnya
Disayang manusia
Berdaun berbunga

Pohon paru-paru jantung kota
Kau redam polusi yang menggila
Zat hijau daun, untung kau ada
Segera ambil racun di udara

Pohon tebang biasa
Pohon hilang biasa
Coba bayangkan usia
Benih tumbuh, tumbuh jadi
Jadi pohon, pohon besar

Andai
Di masa depan
Nisan kuburan
Diganti tumbuhan

Tanpa pohon bisa kubayangakan
Hanya tiang besi dan bangunan
Zat hijau daun, untung kau ada
Ayo, ambil racun di udara

"..."

Share:

11/22/2025

Navicula: 26 Tahun Berkarya, Tetap Menyuarakan Alam dan Kemanusiaan

Navicula: 26 Tahun Berkarya, Tetap Menyuarakan Alam dan Kemanusiaan

Tak banyak band era 90-an yang masih berdiri tegak hingga sekarang. Salah satu yang tetap eksis dan bahkan semakin matang dalam karya adalah Navicula, band asal Bali yang telah menapaki perjalanan musik sejak tahun 1996.

Dikenal sebagai Green Grunge Gentleman, Navicula bukan hanya mengusung musik alternatif dengan energi yang kuat, tetapi juga membawa pesan sosial, budaya, dan lingkungan dalam setiap karyanya.

Dari Bali ke Hollywood

Selama lebih dari dua dekade berkarya, Navicula telah menerima berbagai penghargaan, baik nasional maupun internasional. Keberhasilan mereka tidak berhenti di situ—band ini bahkan pernah masuk ke dapur rekaman di Hollywood, sebuah pencapaian yang tidak mudah untuk musisi independen asal Indonesia.

Namun, di balik semua itu, Navicula tetap setia dengan akar mereka: musik yang berpihak pada alam dan manusia. Melalui lagu-lagu mereka, band ini terus mengajak generasi muda untuk peduli terhadap lingkungan, tradisi, dan budaya Indonesia.

Musik yang Menyatu dengan Gerakan Sosial

Dalam berbagai kesempatan, Navicula kerap menyoroti isu lingkungan, salah satunya masalah sampah plastik. Bahkan, mereka pernah membuat video klip di tempat pembuangan akhir (TPA) sebagai simbol dari kerusakan lingkungan yang mereka suarakan lewat musik.

“Setiap generasi punya isu dan tantangannya sendiri,” ujar Robi, sang vokalis. “Bagi kami, isu sosial dan lingkungan adalah tanggung jawab generasi ini. Mungkin terdengar berat, tapi justru di situlah makna musik kami.”

Dengan total 11 album penuh yang telah dirilis, Navicula membuktikan bahwa idealisme bisa berjalan berdampingan dengan konsistensi. Musik bagi mereka bukan sekadar hiburan, melainkan sarana untuk memberi dampak nyata.

Skena Musik Bali yang Hidup dan Menghidupi

Ketika ditanya soal perkembangan musik di Bali, Navicula mengaku bersyukur atas lingkungan yang mendukung. Sebagai destinasi wisata dunia, Bali menyediakan banyak ruang bagi para musisi untuk tampil, mulai dari bar di Canggu, Seminyak, Ubud, hingga Kuta.

“Ekosistemnya mendukung banget,” kata Robi. “Selain itu, di Bali, seniman punya tempat yang dihormati di masyarakat. Jadi profesi musisi dianggap serius, bukan sekadar hobi.”

25 Tahun dan Terus Berkarya

Dalam perayaan 25 tahun Navicula, band ini meluncurkan produk unik berupa gelas minuman dari bahan daur ulang — simbol nyata komitmen mereka terhadap pelestarian lingkungan. Langkah kecil, tapi bermakna besar.

Mereka berharap karya dan pesan yang dibawa lewat musik bisa terus menginspirasi banyak orang untuk peduli terhadap bumi dan sesama.

“Musik adalah cara kami berbagi cerita,” ujar Robi menutup obrolan. “Selama masih ada yang mau mendengar, kami akan terus bernyanyi.”


*Artikel ini bersumber dari: Tonight Show Net - youtu.be, yang diuploud tanggal 8 Agustus 2022 dan diakses pada tanggal 29 Oktober 2025.

*Thumbnail postingan ini bersumber dari: www.ruangkota.com, yang kemudian diedit oleh Reza.

Share:

11/21/2025

Navicula - Kali Mati (Lirik)

Album Alkemis

Dulu, Kali Bantala adalah nadi desa itu. Setiap pagi, anak-anak berlarian di tepinya, para ibu mencuci sambil bercanda, dan para bapak memancing ikan yang berenang lincah di airnya yang bening. Sungai itu bukan hanya sumber kehidupan—lebih dari itu, ia adalah bagian dari keluarga.

Namun seiring waktu, manusia berubah. Dan sungai itu ikut merasakan perubahannya.

Awalnya hanya satu dua orang yang membuang sampah kecil. Plastik bekas jajan anak-anak, puntung rokok, sisa-sisa rumah tangga. Tak ada yang menegur. “Ah, cuma sedikit…” begitu alasan mereka.

Tapi sedikit demi sedikit menjadi gunungan.

Dan ketika tanda-tanda bahaya mulai tampak, manusia seolah tak peduli. “Mungkinkah mereka sudah tuli dan buta?” tanya Murni, perempuan tua penjaga saung di tepian kali. Ia melihat bagaimana sungai yang dulu jernih kini berubah menjadi hitam keruh, berminyak, dan berbau busuk.

Ikan-ikan mulai mengambang mati. Udang-udang kecil menghilang. Makhluk sungai marah dalam diamnya.

Orang-orang tahu itu—mereka melihatnya setiap hari. Tapi tetap saja, ada yang melempar kantong sampah ke sungai sambil bersiul riang. Ada pula yang membuang limbah dapur tanpa rasa bersalah.

Anehnya, manusia memang tak pernah jera.

Suatu malam, hujan turun tanpa henti. Petir memecah langit dan angin menerpa desa seperti hendak merobeknya. Murni terbangun oleh suara gemuruh. Ia merasakan sesuatu yang sangat ia takuti selama bertahun-tahun.

“Kali itu… akhirnya benar-benar marah.” bisiknya.

Dalam hitungan menit, air hitam pekat meluap dari tepian, menyeret apa saja yang dilaluinya. Banjir bandang datang seakan membawa dendam puluhan tahun. Rumah-rumah terseret, ternak hilang, dan orang-orang berlari panik mencari tempat tinggi.

Di tengah kekacauan itu, sungai seakan berteriak: Kau buang sampahku—kini kubalaskan.

Paginya, desa itu sunyi. Tak ada lagi tawa. Tak ada lagi suara anak-anak. Yang tersisa hanyalah lumpur, puing, dan bau busuk limbah bercampur bangkai ikan.

“Kali mati…” gumam Murni sambil duduk di tepian, menatap air yang kini bahkan tak bergerak. “Semuanya mati.”

Orang-orang menangis. Mereka kehilangan rumah, kehilangan ternak, kehilangan mata pencaharian. Ada yang bahkan kehilangan keluarga.

Ironisnya, yang mereka tinggalkan pada sungai, kini kembali pada mereka.

Sungai yang dulu memberi kehidupan, kini hanya menyisakan dua hal: Limbah. Wabah.

Dan meski bencana sudah terjadi, Murni tahu… manusia bisa saja kembali melakukan hal yang sama. Karena anehnya, manusia memang begitu—mudah lupa, cepat abai.

Tapi ia berdoa, kali ini, mereka belajar. Ia berdoa agar suara sungai yang mati ini bisa menghidupkan kembali kesadaran mereka.

Jika tidak, maka desa itu tinggal menunggu waktu untuk benar-benar hilang.


Navicula - Kali Mati (Lirik)

Mungkinkah, sudah pada tuli buta
Walau sekian tanda ada
Untuk lestarikan kali

Orang buang sampah
Makhluk sungai marah

Dan, semua tahu akhirnya
Akibatnya kita yang rasa
Makan jiwa korban harta

Banjir bandang datang
Kitapun meradang

Semua hilang
Punah sudah
Tinggal limbah
Tinggal wabah

Anehnya, manusia tak pernah jera
Berulang bikin hal serupa
Buang sampahnya di kali

Orang masih girang
Ikan sudah hilang

Semua hilang
Punah sudah
Tinggal limbah
Tinggal wabah

(kali mati)
Isinya semuanya mati

Tinggal limbah
Tinggal wabah

"..."

Share:

11/20/2025

Navicula - Jujur & Setia (Lirik)

Album Alkemis

Takdir selalu punya cara yang aneh saat bekerja. Seperti malam itu, ketika hujan turun pelan dan aku pulang dengan langkah letih, seekor anak anjing berwarna cokelat mengikuti dari belakang. Matanya bulat, gugup, namun penuh harap. Dia tak bersuara, hanya menatap—seakan bertanya apa rumahku punya ruang tersisa untuknya.

Aku tak pernah berniat memeliharanya. Namun entah bagaimana, makhluk kecil itu merayap masuk ke hati tanpa permisi. Dan perlahan, aku tahu… tatapannya, gerak tubuhnya, cara dia menempelkan kepala di lututku—semuanya menyimpan perasaan. Seolah dia juga tahu bahwa aku membutuhkannya.

Cinta yang diam, tapi tak pernah berubah.

Sejak saat itu, dia bukan sekadar anjing jalanan. Dia menjadi sahabat. Seperti Yudistira ditemani kesetiaan seekor anjing dalam kisah lama, begitu pula aku ditemani olehnya—setia, jujur, dan tak pernah menuntut apa pun.

Ada hari-hari ketika hidup memukulku terlalu keras. Ada malam-malam saat kota menolak keberadaanku. Namun setiap aku pulang, meski sudah larut dan tubuhku menggigil, dia ada di sana. Berdiri di depan pintu dengan ekor bergoyang, menunggu, seolah berkata: “Aku di sini. Kamu tidak sendirian.”

Hatinya membuatku haru—karena di dunia yang sering berubah, di mana manusia datang dan pergi sesuka hati, dia tetap tinggal. Tidak peduli betapa kusut hari-hariku, tidak peduli seberapa lambat aku pulang… dia tetap menunggu.

Dia menjaga rumahku dari sepi. Menemaniku ketika bahaya mengintai. Menjadi satu-satunya makhluk yang rela duduk diam di sampingku ketika aku kehilangan arah.

Oh, dia setia.

Dia menunggu dengan sabar, bahkan ketika malam terbenam dan hanya bulan yang menjadi saksi. Dia menjaga diriku ketika kesunyian hampir menelan. Dan untuk semua itu—aku tahu, cinta yang diberikannya tidak pernah meminta balasan.

Kadang aku bertanya-tanya… apa jadinya hidupku tanpa kehadirannya di depan pintu itu?

Mungkin aku tidak akan pernah tahu. Tapi satu hal yang pasti: Cinta yang paling tulus sering datang dalam diam. Dan kadang… ia datang dalam bentuk seekor sahabat berkaki empat yang menunggu kita pulang—tak peduli seberapa larutnya malam.


Navicula - Jujur & Setia (Lirik)

Takdir membawakan (dirinya- perlahan- ke hati-ku-)
Dan aku pun tau- (hatinya- juga a-da- diri-ku-)

Cinta di-am tak pernah berubah..
Oh cinta di-am padaku slamanya..

Sejak dulu kala (kau jadi- sahabat- terperca-ya-)
Sejak Yudistira (bersama-nya hingga- pintu sur-ga-)

Hati- jadi- haru dibuatnya..
Anjing- dia- jujur dan setia..
Oh, dia setia..
Menanti-ku- pu-lang-, meski- te-lah ma-lam..
Menjaga diri ini kala sepi sendiri dan bahaya tiba

Oh dia setia..
Menanti-ku- pu-lang-, meski- te-lah ma-lam..
Menjaga diri ini kala sepi sendiri dan bahaya tiba..

"..."

Share:

11/19/2025

Navicula - Aware (Lirik & Tejemahan)

Album Alkemis

Pintu apartemen itu hampir tertutup ketika Ardan menahan dengan telapak tangannya. Nafasnya terengah, bukan karena lelah berlari—tetapi karena panik. Panik kehilangan sesuatu yang baru ia sadari begitu penting.

“Wait… jangan pergi,” suaranya pecah.

Lara berhenti separuh langkah. Bahunya naik turun pelan, berusaha menahan gemuruh emosi di dadanya. Ruangan itu sunyi, seolah waktu turut menahan napas.

“Ardan, cukup. Aku... nggak mau begini terus.”

Ardan menatap mata Lara—mata yang dulu selalu ia anggap rumah. Kini, rumah itu seperti hendak menutup pintunya untuk selamanya.

“Aku tahu,” Ardan berbisik. “Barusan… aku menusuk harga diriku sendiri. Dan kau… kau membuka hatiku.”

Ia tidak sedang dramatis. Itu kenyataan. Kata-kata Lara tadi, meski pedih, adalah kebenaran yang selama ini ia hindari.

Bahwa ia cemburuan. Bahwa emosinya selalu mengambil alih. Bahwa ia terlalu cepat marah, terlalu lambat memahami.

“Aku… susah bilang kalau kau yang benar.” Ardan menunduk, jujur untuk pertama kalinya. “Aku cuma laki-laki yang cemburuan dan gampang dikendalikan emosi.”

Lara mengusap sudut matanya. “Dan aku capek, Dan. Capek menenangkan badai yang sama setiap minggu.”

“Salahku.” Ardan mendekat, pelan, seolah takut menyentuh sesuatu yang rapuh. “Tapi… pikiranmu itu—cara kau melihat dunia—itu pencerahan buat aku. Serius.”

Keheningan turun lagi. Namun kali ini berbeda—lebih hangat, lebih jujur.

“Please…” suara Ardan gemetar. “Forgive me. Aku berubah. Aku sedang belajar memusingkan otakku sendiri, bukan hanya perasaanku.”

Lara memejamkan mata.

Ardan mengambil napas panjang.

“Please… forgive me,” ulangnya. “Aku lagi berusaha belok ke jalanmu, ke caramu melihat masalah. Kau yang waras selama ini. Kau yang membuatku sadar kalau cinta itu bukan soal menang-kalahan.”

Ia mengangkat kepala. “Beri aku kesempatan berubah… bukan demi kamu, tapi demi kita.”

Lara membuka matanya perlahan. Ada sesuatu yang melunak di sana, meski masih dibalut luka.

“Ardan…” suaranya kecil. “Aku cuma takut kamu berubah hanya karena takut kehilangan. Bukan karena kamu benar-benar ingin jadi lebih baik.”

Ardan menatapnya tanpa berkedip.

“Aku berubah bukan karena takut kehilanganmu.” Ia diam sejenak. “Aku berubah karena aku sadar... selama ini aku yang merusak sesuatu yang sangat indah.”

Air mata Lara jatuh. Lalu langkah kecil terdengar. Ia mendekat, menggenggam telapak Ardan.

Ardan menutup matanya, menahan napas. Seolah sentuhan itu adalah pengampunan, meskipun belum sepenuhnya.

“Please,” bisiknya sekali lagi. “Forgive me.”

Lara menatapnya. “Kalau kamu benar-benar berubah… aku akan tahu.”

Senyap. Tapi bukan senyap yang berakhir. Senyap yang memberi ruang bagi sesuatu yang baru.

Di tengah ruangan kecil itu, dua hati yang pernah retak mencoba menyusun ulang bentuknya—perlahan, hati-hati, namun masih dengan harapan.


Navicula - Aware (Lirik)

Wait-, my angle please don't go
Wait-, look at me
You just stabbed into my pride
And it opened up my heart

I-, hard to say that you were right
I-, just a jealous man and always run by emotion
Your mind is a revelation

Please-, forgive me-, forgive me-, forgive me-
Please-, I'm changing-, I'm turning-, to your mind-

I-, hard to say that you were right
I-, just a jealous man and always run by emotion
Your mind is a revelation

Please-, forgive me-, forgive me-, forgive me-
Please-, I'm changing-, I'm turning-, to your mind-

Please-, forgive me-, forgive me-, forgive me-
Please-, forgive me-, forgive me-, forgive me-
Please-, I'm changing-, I'm turning-, to your way-

"..."


Navicula - Aware (Terjemahan Lirik)

Tunggu—sayang, tolong jangan pergi.
Tunggu—lihat aku.
Barusan kamu menusuk harga diriku,
dan itu membuka hatiku.

Aku… sulit mengakui bahwa kamu benar.
Aku… hanya laki-laki pencemburu yang selalu dikuasai emosi.
Cara berpikirmu itu sebuah pencerahan bagiku.

Tolong… maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku.
Tolong… aku sedang berubah, aku mencoba mengikuti caramu berpikir.

Aku… sulit mengakui bahwa kamu benar.
Aku… hanya laki-laki pencemburu yang selalu dikuasai emosi.
Cara berpikirmu itu benar-benar membuka mataku.

Tolong… maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku.
Tolong… aku sedang berubah, aku mencoba mengikuti caramu berpikir.

Tolong… maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku.
Tolong… maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku.
Tolong… aku sedang berubah, aku mencoba mengikuti jalanmu.

“…”

Share:

11/18/2025

.Feast - Tarian Penghancur Raya (Lirik)

.Feast - Tarian Penghancur Raya (Lirik)

Malam itu Jogja tidak seperti biasanya. Angin dingin menusuk, membawa aroma asin dari peluh manusia dan kesedihan yang melayang-layang di antara gedung-gedung kota. Seolah alam sedang menangis, dan air matanya tertinggal di permukaan jalan yang retak. Arga berdiri di tepi trotoar, memandangi keramaian yang sibuk berlari dari sesuatu yang mereka sendiri ciptakan. Di langit, awan hitam menumpuk, bukan karena hujan—melainkan asap uap kimia yang perlahan menelan bintang-bintang.

“Jogja membeku…” gumamnya. “Dan kita yang membuatnya begini.”

Di sudut jalan, sebuah kamar kos berjeruji tampak penuh penghuni asing. Bukan manusia, tapi fauna kecil: tikus, kecoa, dan binatang liar yang tersesat akibat habitatnya lenyap diganti ruko-ruko baru yang menjual bunga plastik dan AC berfreon tinggi.

Flora yang dulu tumbuh bebas kini menjadi dekorasi toko. Hutan berubah katalog interior.

Dan di gedung-gedung bank, para ahli industri berbicara lantang tentang “kemajuan teknologi”—padahal teknologi itu merampas hidup para penghuni asli bumi, membuat etnografi alam hanya jadi buku babad yang tak lagi dianggap penting.

Di sepanjang jalan Malioboro, iklan modern menempel di setiap lampu. Trotoar baru yang lebar, deretan mobil listrik mewah, bahkan sebuah Tesla hitam melintas dengan pamer.

Namun semua itu kalah cepat tersalip oleh seekor kuda kereta yang ngos-ngosan, matanya sayu seperti memahami apa yang manusia tidak mau akui: kemajuan hanyalah kedok untuk kehancuran yang lebih cepat.

Lampu merah menyala. Di zebra cross, seorang pejalan kaki roboh tiba-tiba. Sesak napas. Efek polusi. Efek Rumah Kaca. Efek manusia.

Arga memandang langit yang semakin gelap meski matahari belum benar-benar tenggelam. Senja kehilangan kata. Malam tak punya cahaya. Siang hanya bayangan suram.

Kota ini dibungkam oleh asapnya sendiri.

Keesokan harinya, Arga bergabung dalam agenda gotong royong “kota bersih”—ironi pahit yang dirayakan pemerintah. Orang-orang menyapu, menanam beberapa pohon kecil, memungut sampah yang tak pernah berhenti diproduksi.

“Kita sedang menyusun neraka,” kata Arga pelan.

Seseorang menoleh. “Apa maksudnya?”

“Kita membersihkan sampah, tapi pabrik di ujung kota menghasilkan seribu kali lipat lebih banyak setiap jam.”

Orang itu terdiam. Karena itu fakta. Dan fakta itu menyesakkan.

Rumor mengatakan suatu hari nanti oksigen akan dijual seperti pulsa. Negara akan menetapkan harga O2, seperti menertawakan tragedi yang mereka biarkan tumbuh. Dan sementara itu, kebijakan terus bertamasya—membabat hutan, mengusir hewan, menenggelamkan desa demi proyek “masa depan”.

Pepohonan kalah. Burung-burung bernyanyi muram. Gunung tampak kecewa. Laut menatap manusia dengan dingin, seolah sudah lama ingin menelan semuanya.

Malam itu, badai aneh muncul di atas kota. Langit berwarna merah, seperti luka terbuka.

Layar-layar digital di seluruh Jogja tiba-tiba menampilkan berita: “Kudeta Alam Raya: Kutub Utara Mulai Meleleh Total.”

Arga berdiri di tengah jalan, menyaksikan asap mengepul dari pabrik-pabrik yang terus bekerja, meski dunia sedang menuju kehancuran. Pabrik itu seperti monster, menghembuskan uap panas yang mengepung kota.

Kemudian terdengar bunyi keras.

Buuuuummm.

Gunung di utara memuntahkan asap. Laut di selatan naik empat meter dalam beberapa jam. Burung-burung terbang rendah, seperti ketakutan.

“Ini sudah terlalu jauh…” bisik Arga.

Dan di tengah kekacauan itu, manusia justru menari—bukan tarian bahagia, melainkan tarian kebiasaan buruk yang menghancurkan alam raya.

Membuang sampah. Menghisap plastik. Mengabaikan peringatan. Mengganti pepohonan dengan beton.

Tarian penghancur raya.

Arga memejamkan mata, merasakan bumi bergetar pelan di bawah kakinya. Bukan gempa. Melainkan degup bumi yang sedang marah.

“Siarkan kabar kehancuran,” katanya lirih. “Karena kita sendiri yang menyalakannya.”

Lalu ia melangkah menuju pusat kota—tempat manusia, alam, dan bencana bertemu dalam satu tarian yang tak bisa dihentikan lagi.

Tarian penghancur raya.

Songwriters: Rayhan Noor/Dicky Renanda/Adrianus Aristo Haryo/Adnan Satyanugraha Putra/Fadli Fikriawan/Daniel Baskara Putra/Wisnu Ikhsantama


.Feast - Tarian Penghancur Raya (Lirik)

Mata dan peluh yang asin
Perlahan dihapus angin
Jogja yang beku mendingin
Menari menghancurkan alam raya yang kecewa

Dibuatnya malapetaka
Kamar berjeruji berpenghuni bersafari berbagai fauna
Flora kerasukan freon di ruko toko bunga
Bank ahli industri teknologi
Etnografi produksi menggurui penghuni asli

Berbicara cepat bilang haram
Kearifan lokal yang dibungkam
Tuli pada yang belajar alam
Mati sesak nafas tengah malam

Trotoar lebar, bahan hijau, Tesla
Kalah cepat disalip kuda Asia
Tewas di lampu merah, garis zebra
Efek Rumah Kaca tiba-tiba suddenly di mana-mana

Uap terlontar mengepung kota
Berlomba ciptakan plastik kita
Saat senja kehabisan kata
Siang malam pun gelap gulita

Kerja bakti menyusun neraka
Kita miliki bahan bakarnya
Perihal waktu tunggu datangnya
O2 dijual oleh negara

Oh, terima kasih 'kan usahanya
Sedotan besi, plastik cycle tiga
Pun pepohonan tak berkuasa
Lawan kebijakan yang bertamasya

Burung bersiul malapetaka
Gurun menatap dingin manusia
Laut dan pegunungan kecewa
Kudeta besar alam semesta

Siarkan kabar penelan surya
Meleleh matikan kutub utara
Amalkan tarian penghancur raya
Kobarkan tarian penghancur raya
Kobarkan tarian penghancur raya
Kobarkan tarian penghancur raya

Share:

11/17/2025

.Feast - o,Tuan (Lirik)

.Feast - o,Tuan (Lirik)

Ada hal-hal yang selalu kupahami sejak kecil: bunga akan layu, rumput akan mengering, dan daun akan menguning. Semuanya bergerak menuju akhir dengan cara yang pasti—pelan, tapi tak terhindarkan. Namun hanya malam itu aku benar-benar merasakan betapa cepatnya waktu mencuri.

Ruang tunggu rumah sakit itu terasa seperti perut jam besar yang berdetak pelan namun mengancam. Kursi-kursi besi memantulkan dingin yang menembus celana, dan suara AC berbunyi bagai napas panjang seseorang yang sedang menyembunyikan kecemasan.

Di ujung ruangan, aku duduk dengan tangan saling meremas, melihat pintu operasi yang tertutup rapat. Di balik pintu itu, seseorang yang kucintai sedang berbaring tak bergerak—menyerahkan tubuhnya pada dokter, mesin, dan sesuatu yang tidak bisa disentuh oleh manusia: takdir.

Waktu, pikirku, benar-benar terasa seperti kutukan. Ancaman yang selalu datang tanpa mengetuk.

Satu per satu orang di sekitarku pergi—ada yang pindah kota, ada yang menjauh, ada yang meninggal. Namun malam ini… rasanya berbeda. Seperti dunia sengaja memberi peringatan khusus untukku.

“Oh, Tuan Kematian,” gumamku tanpa suara, “aku tahu aku tak bisa melawan. Tapi tolong… jangan hari ini.”

Aku tidak berdoa dengan metafora. Tidak ada diksi indah. Tidak ada puisi yang kubungkus rapi seperti biasanya.

Di ruangan hening ini, aku hanya manusia biasa yang takut. Takut pada sesuatu yang tidak bisa kuhadapi dengan logika.

Aku bersandar ke dinding, memejamkan mata, dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mengakui bahwa aku benar-benar tidak siap.

Melihatmu masuk ke ruang operasi tadi… rasanya seperti ada seseorang yang merobek sebagian jiwaku lalu meletakkannya di meja bedah bersama tubuhmu. Setiap detik terasa panjang dan penuh ancaman, seolah waktu ingin mengingatkan bahwa ia berkuasa dan aku hanya penumpang sementara.

Aku berjanji, suatu hari nanti, aku akan belajar mengikhlaskan. Aku akan menerimanya. Aku akan berdamai dengan apa pun yang harus terjadi.

Namun tidak malam ini. Tidak saat aku masih bisa merasakan hangatnya tanganmu beberapa jam lalu. Tidak saat suaramu masih terdengar jelas memintaku untuk tidak cemas.

“Oh Tuan Kematian,” bisikku sekali lagi, “berikan kami satu hari lagi. Satu malam lagi. Satu pagi lagi.”

Pintu ruang operasi tetap diam, tak memberi jawaban. Tapi entah bagaimana, aku terus berharap.

Karena malam itu, di ruang tunggu yang dingin, aku bukan sedang meminta keajaiban besar. Aku hanya meminta waktu sedikit lebih lama.

Sungguh…
jangan hari ini.

Songwriters: Adnan Satyanugraha Putra/Baskara Putra/Dicky Renanda Putra/Fadli Fikriawan Wibowo/Kathleen Ivanka/Muhammad Erlangga A.N./Muhammad Luthfi Adianto/Rama Harto Wiguna.


.Feast - o,Tuan (Lirik)

Oh jelas aku tahu
Bunga akan layu
Rumput kan mengering
Daun kan menguning
Kau tahu menurutku
Waktu adalah
Kutukan
Ancaman
Bualan

Dan satu per satu
Orang sekitarku
Mulai ditinggalkan
Oh ini peringatan

Untukku, o Tuan
Wahai Kematian
Ku tak bisa melawan
Jamah perhentian
Berjanji kuikhlaskan dengan rela
Namun jangan hari ini

Melihatmu masuk ke dalam ruang operasi
Berdoa semalam suntuk
Di kamar yang hening
Tanpa metafora dan analogi
Kiasan berbelit diksi
Tanpa berbungkus fiksi
Aku takut

Untuknya, o Tuan
Wahai Kematian
Ku tak bisa melawan
Jamah perhentian
Berjanji kuikhlaskan dengan rela
Namun jangan hari ini

Share:

11/16/2025

.Feast - Arteri (Lirik)

.Feast - Arteri (Lirik)

Malam itu, lampu-lampu kota memantulkan cahaya ke kaca mobil yang melaju di Jalan Arteri Pondok Indah. Di kursi penumpang, Dara menatap wajahnya sendiri melalui pantulan jendela—kusut, kosong, dan telanjang dari segala topeng yang biasanya ia pakai di siang hari.

“Selamat datang di usia dua puluh,” gumamnya lirih. Ucapan itu terdengar seperti doa… atau kutukan.

Sejak ulang tahunnya dua minggu lalu, hidup terasa seperti gelas kosong yang dituang terlalu cepat. Ia mencoba mencicipi dunia, menelan pahitnya, dan berharap menemukan sesuatu yang mirip kebahagiaan.

Tapi yang ia temukan justru Arga.

Pria itu muncul tiba-tiba dalam hidupnya. Tidak membawa solusi, hanya memberi tempat untuk melarikan diri—meskipun untuk beberapa jam saja. Setiap kali dunia terasa menyesakkan, Dara datang mencarinya. Dan Arga, entah kenapa, selalu menerima.

Malam itu, seperti banyak malam lainnya, mereka bersembunyi dari dunia di sebuah kamar kecil di lantai tiga sebuah apartemen sewaan.

Dara menenggelamkan wajahnya ke bahu Arga, tubuhnya bergetar menahan tangis.

“Aku capek,” bisiknya patah.

“Lepasin saja semua. Muntahkan,” jawab Arga pelan, mengusap punggungnya.

Dara menangis lebih keras. Ia tahu Arga bukan tempat untuk pulang. Ia tahu pria itu membawa luka yang sama dalam-dalamnya.

Tapi anehnya, justru itu yang membuat mereka saling mencari.

Mereka adalah dua trauma yang saling menenangkan… tanpa pernah benar-benar sembuh.

Dara sering berpikir: hidup seperti apa yang hanya berjalan delapan kali sebulan? Delapan malam pelarian. Delapan kali perasaan mati rasa. Delapan kali Arga menjadi bahu untuk menangis. Delapan kali pura-pura bahagia.

Ia tahu, di balik semua perhatian kecil itu, Arga tidak pernah benar-benar ada. Dara pura-pura tidak sadar. Pura-pura tidak tahu. Bahwa Arga cuma trauma yang berwujud manusia.

“Aku ingin menyelamatkanmu,” kata Dara suatu malam.

Arga terdiam lama sebelum menjawab, “Kenapa mencoba menyelamatkan orang yang bahkan tidak mau tinggal?”

Dara menunduk. Kata-kata itu menampar, tapi benar.


Hubungan mereka bukan cinta. Cinta tidak dijaga oleh jarak, tidak disembunyikan, dan tidak dikendalikan oleh perantara. Cinta tidak membuat seseorang berlari mengejar bayangan.

Namun malam itu, Dara tetap berlari.

“Arga!” serunya ketika pria itu keluar dari kamar, wajahnya hampa seperti biasanya.

Arga menoleh, sekilas saja.

“Kita… apa?” tanya Dara dengan napas tersengal.

Arga menatapnya. Tatapan itu dingin, tapi jujur.

“Kita hanyalah dua orang yang mencoba merasa hidup di tempat yang salah.”

Dara menggigit bibir. Perih itu menyusup ke dada.

“Jadi selama ini…?”

Arga menghela napas. “Kau hanya trauma. Begitu pula aku.”


Ketika Arga akhirnya pergi, Dara kembali ke mobilnya dan mulai melaju di Arteri Pondok Indah. Lampu jalan berpendar seperti garis-garis cahaya yang menyayat gelap.

Di sepanjang jalan itu, ia merasa seakan seluruh perasaannya mengalir—pahit, sesak, namun nyata.

Setetes kebahagiaan… Yang selalu ia cari… Ternyata hanya meluncur. Tidak pernah menetap. Tidak pernah berhenti di mana pun. Termasuk di hatinya.

Dan di tengah deru mesin, Dara sadar satu hal: malam ini adalah terakhir kalinya ia membiarkan dirinya meluncur dalam arteri trauma yang tak ada ujungnya.

Ia menggenggam setir erat-erat. Malam masih panjang. Dan untuk pertama kalinya, ia ingin pulang—bukan pada seseorang, tapi pada dirinya sendiri.


Lirik ditulis oleh Dicky Renanda Putra (gitaris), dengan bantuan dari Baskara Putra (vokalis) dan Laleilmanino (produser).


.Feast - Arteri (Lirik)

Telanjang, ku telanjang
Menyicipi dunia
Hatiku berkata
"Selamat datang di dua puluh!"

Kau tambal kegagalanku
Kau masuk ke dalam darah
Berdansa dan berserah
Untuk sekian jam saja

Sembunyikanmu dari dunia
Hilang akal saat kau ada
Berputar, mana ujungnya?

Menangisku di pundakmu
Kau bilang muntahkan semua pilu
Aku pura pura tak tahu
Aku pura pura tak sadar
Kau hanya trauma
(Meluncur di Arteri)

Aku ingin tak menghiraukan masa depan
Namun hidup apa hanya delapan kali sebulan?
Salahku memikirkan
Untuk menyelamatkan
Saat kau lah titik perkara

Menangisku di pundakmu
Kau bilang muntahkan semua pilu
Aku pura pura tak tahu
Aku pura pura tak sadar
Kau hanya trauma
(di Arteri Pondok Indah)

Aku berlari lari lari lari mengejar dirimu
Cinta macam apa yang dijaga ketat oleh perantara?
Indraku mati rasa, kubuang jauh dalam tempat sampah
(Di Arteri Pondok Indah)

Kau hanya trauma
Meluncur di Arteri
Hanya lagu lama
Bernyanyi di Arteri

Menangisku di pundakmu
Kau bilang muntahkan semua pilu
Aku pura pura tak tahu
Aku pura pura tak sadar
Kau hanya trauma
(Meluncur di arteri)

Setetes bahagia
Yang selalu kau cari
Mengalir berkelana
Meluncur di arteri

Setetes bahagia
Yang selalu kau cari
Mengalir berkelana
Meluncur di arteri

Share:

11/15/2025

.Feast - Gugatan Rakyat Semesta (Lirik)

.Feast - Gugatan Rakyat Semesta

Malam itu kota seperti sedang menahan napas. Langit menggantung rendah, lampu-lampu jalan berkedip seakan ragu untuk menyala sepenuhnya. Di tengah keremangan itu, sekelompok anak muda berdiri membentuk lingkaran di halaman sebuah gedung tua yang sudah lama tak terpakai. Suara gemerisik poster, kain spanduk, dan napas-napas gelisah memenuhi udara.

Di tengah lingkaran itu, ada Arga—seorang pemuda kurus dengan mata yang sudah terlalu sering melihat ketidakadilan. Tangan kanannya mengepal, seolah-olah memegang sesuatu yang tak terlihat—energi, kemarahan, harapan… entahlah.

“Rapatkan barisan,” katanya pelan. “Petir di kepalan tangan.”

Seruan itu diikuti berulang-ulang oleh yang lain. Bukan seperti teriakan perang, tetapi lebih seperti mantra. Sesuatu yang mereka ulang agar hati mereka tidak goyah.


Arga memandang wajah-wajah di hadapannya. Wajah-wajah yang capek berjuang sendirian. Wajah-wajah yang marah pada dunia, tapi masih cukup peduli untuk tidak membiarkannya hancur tanpa perlawanan.

“Sudah siapkah kalian melihat esok hari?” tanya Arga.

Mereka diam. Tapi diam yang keras. Diam yang berarti ya.

“Esok yang tanpa parasit yang makan lebih rakus dari babi,” lanjutnya, suaranya kian lantang. “Tanpa kaki-kaki yang memakai sepatu seharga sebuah motor, tapi menginjak masa depan orang lain seperti tanah becek.”

Beberapa tertawa getir. Yang lain menggertakkan gigi.

Arga menarik napas panjang. “Dan tanpa mulut yang manis hanya saat kamera menyorot.”

Satu kalimat itu cukup membuat lingkaran itu mendidih. Semua tahu siapa yang ia maksud. Yang mereka lawan bukan sekadar orang. Tapi sistem yang sudah terlalu lama membusuk.

“Kita tak menunggu waktu yang tepat,” kata Arga lagi. “Tak ada waktu yang benar-benar tepat. Kita yang harus menciptakannya.”

Ia berjalan ke depan, menatap langit yang sesekali berkedip lembut. Awan-awan gelap seperti menggambar garis batas antara dunia lama dan dunia yang ingin mereka gali sendiri dari reruntuhan.

“Aku nggak minta kalian menaruh nyawa di jalan,” katanya. “Tapi aku mau kalian tahu… selalu ada jalan jika kita serius ingin perubahan.”

Beberapa orang mengangguk. Yang lain mengepalkan tangan mengikuti Arga.

“Kalau mereka kira kalian lemah,” Arga melanjutkan, “maka kalian jadi setan yang tak bisa mereka jinakkan.”


Di tepi halaman gedung, seorang gadis bernama Nira mendengarkan dengan dada berdebar. Ia bukan pahlawan. Ia bukan pembuat pidato. Ia hanya seseorang yang muak karena hidup selalu mengurangi hak orang kecil untuk menambah kenyamanan orang besar.

Kenyamanan hanya dipinjamkan sementara, pikirnya. Dan suatu hari, pasti harus direbut kembali.

Saat Arga kembali berdiri di tengah, ia berkata, “Apa pun yang kalian percayai, itu hak kalian. Siapa pun yang kalian cintai, itu layak dihargai. Dari mana pun kalian datang, kalian patut dilindungi.”

Ucapan itu seperti api kecil yang menyala di dalam dada mereka. Di dunia yang sering meminta mereka diam, kata-kata itu adalah izin untuk menjadi manusia sepenuhnya.

“Sekarang… tunjukkan bahwa kita yang pegang kepercayaan. Kita yang punya kuasa. Kita yang menentukan arah.”

Langit bergemuruh tepat ketika ia selesai bicara. Seolah-olah alam pun merapatkan barisannya bersama mereka.

Petir menyambar jauh di kejauhan—tapi dalam hati setiap dari mereka, petir yang lebih besar sudah meledak.

“Rapatkan barisan,” ulang Arga sekali lagi.

Kali ini, suara puluhan orang menjawab: “PETIR DI KEPALAN TANGAN!”

Dan malam itu, tanpa senjata, tanpa jubah pahlawan, mereka mulai bergerak. Bukan untuk mencari perang. Tapi untuk menciptakan esok hari yang selama ini hanya berani mereka bayangkan dalam mimpi.


Lirik ditulis oleh Baskara Putra, vokalis band .Feast, dan juga dikomposisikan oleh Dicky Renanda dan Adrianus Aristo Haryo.


.Feast - Gugatan Rakyat Semesta (Lirik)

(Rapatkan barisan, petir di kepalan tangan
Rapatkan barisan, petir di kepalan tangan
Rapatkan barisan, petir di kepalan tangan
Rapatkan barisan, petir di kepalan tangan)

Sudah siapkah kau tuk melihat esok hari?
Tanpa parasit yang makan lebih dari babi
Tanpa kaki yang bersepatu semahal sapi
Mulut yang semanis minuman berkarbonasi
Sudah siapkah kau 'tuk ciptakan esok hari?
Kau kepung kastil yang berpura-pura peduli
Duduki atap hijau dan mereka kabur lari
Bendera warna-warni kau tak dipecah lagi

Tak ada waktu yang benar-benar tepat
Ciptakanlah sendiri
Tak ada tembok yang bener trlalu kuat
Rapatkan barisan, petir di kepalan tangan

Ku tak memintamu 'tuk taruh nyawa di jalan
Ku hanya bri tahu bahwa slalu ada jalan
Jika kau sangat serius ingin perubahan
Mreka kira kau lemah, kau jadi setan

(Rapatkan barisan, petir di kepalan tangan)

Sudah siapkah kau tuk hidupi esok hari?
Apapun yang kau percayai, pasti hakiki
Siapapun yang kau cintai, kau dihargai
Darimana kau datang dan pergi, dilindungi
Kenyamanan hanya dipinjamkan sementara
Tunjukkan bahwa kau lah yang pegang percaya
Tunjukkan bahwa kau lah yang punya kuasa
Tunjukan gemuruh gugatan rakyat semesta

Ku tak memintamu 'tuk taruh nyawa di jalan
Ku hanya bri tahu bahwa slalu ada jalan
Jika kau sangat serius ingin perubahan
Mreka kira kau lemah, kau jadi setan

Rapatkan barisan, petir di kepalan tangan...

Ku tak memintamu 'tuk taruh nyawa di jalan
Ku hanya bri tahu bahwa slalu ada jalan
Jika kau sangat serius ingin perubahan
Mreka kira kau lemah, kau jadi setan
...

Share:

Total Pageviews

Histats

Tags

Lirik (132) Lokal (68) Jepang (45) OST. Anime (34) Terjemahan / Translate (33) Barat (14) OST. Film (13) Korea (4) OST. Series/Drama (3) Thread (3) Latin (1)

New Post

Raisa - Bye-Bye | Lirik & Terjemahan

Raisa - Bye-Bye | Lyrics Hey Girl You know you're beautiful Where is the pretty smile that You've been hiding far too long...

Search