Dulu, Kali Bantala adalah nadi desa itu. Setiap pagi, anak-anak berlarian di tepinya, para ibu mencuci sambil bercanda, dan para bapak memancing ikan yang berenang lincah di airnya yang bening. Sungai itu bukan hanya sumber kehidupan—lebih dari itu, ia adalah bagian dari keluarga.
Namun seiring waktu, manusia berubah. Dan sungai itu ikut merasakan perubahannya.
Awalnya hanya satu dua orang yang membuang sampah kecil. Plastik bekas jajan anak-anak, puntung rokok, sisa-sisa rumah tangga. Tak ada yang menegur. “Ah, cuma sedikit…” begitu alasan mereka.
Tapi sedikit demi sedikit menjadi gunungan.
Dan ketika tanda-tanda bahaya mulai tampak, manusia seolah tak peduli. “Mungkinkah mereka sudah tuli dan buta?” tanya Murni, perempuan tua penjaga saung di tepian kali. Ia melihat bagaimana sungai yang dulu jernih kini berubah menjadi hitam keruh, berminyak, dan berbau busuk.
Ikan-ikan mulai mengambang mati. Udang-udang kecil menghilang. Makhluk sungai marah dalam diamnya.
Orang-orang tahu itu—mereka melihatnya setiap hari. Tapi tetap saja, ada yang melempar kantong sampah ke sungai sambil bersiul riang. Ada pula yang membuang limbah dapur tanpa rasa bersalah.
Anehnya, manusia memang tak pernah jera.
Suatu malam, hujan turun tanpa henti. Petir memecah langit dan angin menerpa desa seperti hendak merobeknya. Murni terbangun oleh suara gemuruh. Ia merasakan sesuatu yang sangat ia takuti selama bertahun-tahun.
“Kali itu… akhirnya benar-benar marah.” bisiknya.
Dalam hitungan menit, air hitam pekat meluap dari tepian, menyeret apa saja yang dilaluinya. Banjir bandang datang seakan membawa dendam puluhan tahun. Rumah-rumah terseret, ternak hilang, dan orang-orang berlari panik mencari tempat tinggi.
Di tengah kekacauan itu, sungai seakan berteriak: Kau buang sampahku—kini kubalaskan.
Paginya, desa itu sunyi. Tak ada lagi tawa. Tak ada lagi suara anak-anak. Yang tersisa hanyalah lumpur, puing, dan bau busuk limbah bercampur bangkai ikan.
“Kali mati…” gumam Murni sambil duduk di tepian, menatap air yang kini bahkan tak bergerak. “Semuanya mati.”
Orang-orang menangis. Mereka kehilangan rumah, kehilangan ternak, kehilangan mata pencaharian. Ada yang bahkan kehilangan keluarga.
Ironisnya, yang mereka tinggalkan pada sungai, kini kembali pada mereka.
Sungai yang dulu memberi kehidupan, kini hanya menyisakan dua hal: Limbah. Wabah.
Dan meski bencana sudah terjadi, Murni tahu… manusia bisa saja kembali melakukan hal yang sama. Karena anehnya, manusia memang begitu—mudah lupa, cepat abai.
Tapi ia berdoa, kali ini, mereka belajar. Ia berdoa agar suara sungai yang mati ini bisa menghidupkan kembali kesadaran mereka.
Jika tidak, maka desa itu tinggal menunggu waktu untuk benar-benar hilang.
Navicula - Kali Mati (Lirik)
Mungkinkah, sudah pada tuli buta
Walau sekian tanda ada
Untuk lestarikan kali
Orang buang sampah
Makhluk sungai marah
Dan, semua tahu akhirnya
Akibatnya kita yang rasa
Makan jiwa korban harta
Banjir bandang datang
Kitapun meradang
Semua hilang
Punah sudah
Tinggal limbah
Tinggal wabah
Anehnya, manusia tak pernah jera
Berulang bikin hal serupa
Buang sampahnya di kali
Orang masih girang
Ikan sudah hilang
Semua hilang
Punah sudah
Tinggal limbah
Tinggal wabah
(kali mati)
Isinya semuanya mati
Tinggal limbah
Tinggal wabah
"..."







0 komentar:
Post a Comment